Indonesia boleh dikenal sebagai negeri yang ramah dan murah senyum. Tapi, agaknya hanya di tempat-tempat wisata saja yang seperti itu. Lihat sendiri kenyataannya di ibukota. Sebut saja Jakarta, sudah jarang orang bertegur sapa dengan hati yang tulus. Kalaupun berbincang, biasanya hanya basa-basi yang setengah ikhlas.
Satu yang paling kentara adalah penduduk ibukota lebih egois dibanding penduduk manapun. Dengan mudah bisa marah saat antreannya diselak atau jika tertubruk tiba-tiba kala jalan.
Atmosfer baru bisa membawa orang menjadi pribadi yang baru. Dikelilingi aura positif bisa membuat Anda lebih positif juga. Itulah mengapa traveling tak selamanya hanya disebut liburan.
detikTravel berkeliling New South Wales atas undangan dari Dinas Pariwisata New South Wales dan dwidayatour. Sepanjang perjalanan, kami hampir selalu bertemu orang yang ramah dan beraura positif.
Mulai dari menyapa dengan tulus saat di restoran atau toko. Sampai memberikan jalan kepada orang lain dan meminta maaf lebih dulu jika ada kesalahan. Tanpa disadari, kebiasaan positif ini bisa membuat hati lebih lembut.
Satu hal lagi yang bisa dicontoh adalah bagaimana mereka mengapresiasi orang lain. Tentu sudah tak heran jika mendengar turis asing menambahkan kata "wonderful", "perfect", dan "lovely", saat berbincang. Sadar tak sadar, kebiasaan ini membawa suasana lebih positif.
Liburan tak selamanya bersenang-senang. Membawa pulang kebiasaan dan sikap positif bisa membuat liburan lebih berharga dan diri semakin 'kaya'.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru