Kisah Gereja Tersembunyi di Loteng Rumah di Amsterdam

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Belanda

Kisah Gereja Tersembunyi di Loteng Rumah di Amsterdam

Sri Anindiati Nursastri - detikTravel
Jumat, 02 Okt 2015 16:50 WIB
Kisah Gereja Tersembunyi di Loteng Rumah di Amsterdam
Our Lord at the Attic, gereja Katolik yang terletak di loteng rumah di Amsterdam (Sastri/detikTravel)
Amsterdam - Tak akan ada yang menyangka, sebuah rumah tua di Amsterdam punya gereja tersembunyi di lotengnya. Inilah Museum Our Lord in the Attic, dengan sejarah persaingan Katolik dan Protestan di Belanda.

Dari luar, museum ini tampak seperti rumah Belanda samping kanal pada umumnya. Tapi siapa sangka, rumah tua berusia 350 tahun itu punya gereja Katolik yang tersembunyi di bagian loteng. Rumah itu sendiri, yang kini terletak di Oudezijds Voorburgwal 38-40, berusia 350 tahun dan masih terjaga baik.

"Our Lord in the Attic Museum baru saja dibuka beberapa hari lalu. Tapi sesuai usianya, merupakan salah satu yang tertua di Amsterdam selain Rijkmuseum," tutur Judikje Kiers, Our Lord in the Attic Museum Director, kepada detikTravel yang berkesempatan mengunjungi museum tersebut pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adalah Jan Hartman (1619-1668), seorang kaya asal Jerman yang membeli dua rumah di pinggir kanal itu. Bersama keluarganya, Hartman tinggal di rumah tersebut tepat pada masa Katolik dilarang oleh umat Protestan.

Ya, tepat pada 1578, umat Protestan di Belanda menyingkirkan setiap pemegang jabatan pemerintah yang beragama Katolik. Dari situlah, beberapa gereja Katolik di Amsterdam sengaja dibuat tersembunyi. Tercatat ada 30 gereja Katolik tersembunyi di ibukota Belanda itu.

Our Lord in the Attic, begitu nama gereja Katolik yang tersembunyi di loteng rumah Hartman. Dia menggabungkan loteng dari 2 rumah yang dibelinya untuk membuat gereja berkapasitas 150 jamaat.

"Hampir seluruh bangunan direnovasi sejak 2009. Meski begitu semua perabotan yang ada di sini asli, peninggalan rumah ini sendiri," papar Kiers.

Sebelum mencapai loteng, traveler akan berkeliling rumah Hartman dan melihat berbagai koleksinya. Dua lantai dasar ditempati oleh Hartman dan keluarganya. Menghadap langsung kanal, Hartman rupanya senang melihat banyak kapal lalu-lalang depan rumahnya.

"Dutch East India Company (VOC-red) sedang besar-besarnya waktu itu. Kami menyebutnya masa Golden Age," tambah Kiers.

Tiba di loteng, traveler akan dihadapkan pada ruangan panjang bertingkat tiga. Inilah Our Lord in the Attic, yang bergaya Baroque sekaligus klasik. Gereja ini pernah direkonstruksi sekali, yakni pada 1862. Warna dinding gereja itu mirip pink, namun merupakan gabungan dari cokelat, merah, dan ungu.

Gereja itu dilengkapi altar yang juga bergaya Baroque, lengkap dengan lantai marmer. Di bagian belakang, tepat di lantai 2 terdapat organ buatan tahun 1794 yang masih berfungsi sampai sekarang.

Our Lord in the Attic Museum buka pukul 10.00-17.00 setiap hari, dengan tiket masuk 9 Euro (Rp 150.000) per orang. Dalam satu museum, Anda bisa mengagumi keindahan gereja tersembunyi di loteng sekaligus berkeliling rumah tua asli Belanda.

(sst/sst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads