Di berbagai kota di Asia, wisatawan bisa menikmati aksi seniman jalanan. Street art bisa begitu tradisional seperti di Xian, China atau bisa juga atraktif dan modern seperti di Seoul, Korea Selatan.
detikTravel pernah traveling ke Seoul di Korea Selatan dan Xian di Tiongkok dalam waktu yang berbeda. Saya membandingkan street art yang dinikmati wisatawan di kedua kota itu.
Di Negeri Ginseng, street art didominasi anak muda. Di salah satu sudut kota Seoul, Myeongdong, seorang anak muda melakukan atraksi sulap kontemporer dicampur gerakan pantomim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Andi Saputra/detikTravel)
Adapun peralatan sulapnya ia bawa dengan koper besar dan dibantu sebuah meja lipat. Trik sulap sederhana dari kartu hingga kecepatan tangan memainkan bola, membuat penonton enggan beranjak dari tempat berdirinya.
Bagi wisatawan yang beruntung, bisa melihat langsung pembuatan drama Korea di lokasi yang sama. Meski bukan bagian dari street art, tetapi pengambilan gambar ini cukup membuat puluhan orang berjejal melihat pengambilan gambar tersebut.
(Andi Saputra/detikTravel)
Adapun di kota kuno Terakota, Xian, China, street art nyaris tidak ada. Meski demikian, kita bisa menikmati aksi pemain alat musik tiup tradisional memainkan musik di samping dagangannya.
Di kota semacam Xian, street art yang muncul bentuknya klasik dan tradisional. Mungkin di Shanghai baru kita melihat street art yang modern. Dimanapun itu, street art adalah sebuah atraksi murah meriah, namun bisa menjadi sangat berkesan untuk wisatawan.
Dari banyaknya street art di berbagai kota di Asia, mungkin sudah saatnya pemerintah Indonesia juga menggandeng seniman setempat. Tentu, kualitas seninya harus dijaga, karena street art bukan sekadar mengamen ecek-ecek.
(Andi Saputra/detikTravel)
(rdy/gst)











































Komentar Terbanyak
Bandara Husein Sastranegara Beroperasi Lagi, Kertajati Jadi Bengkel Pesawat
Prabowo Beri Lampu Hijau, Bandara Husein Sastranegara Mulai Bersolek
Jokowi Dapat Gelar Baginda Pemuka Bangsa dari Keraton Kagungan Lampung, Apa Maknanya?