Selain Korut, Negara Ini Tidak Kalah Tertutup
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Selain Korut, Negara Ini Tidak Kalah Tertutup

Johanes Randy Prakoso - detikTravel
Jumat, 12 Feb 2016 09:20 WIB
Selain Korut, Negara Ini Tidak Kalah Tertutup
Ibukota Ashgabat di Turkmenistan (Nellie Huang/BBC)
Ashgabat - Korea Utara bukanlah satu-satunya negara di dunia yang cukup tertutup untuk wisatawan. Turkmenistan di Asia Tengah ini juga tidak kalah tertutup.

Jika mengira Korut sebagai satu-satunya negara tertutup di dunia, maka Anda salah mengira. Dilansir detikTravel dari situs LSM Freedom House, Jumat (12/2/2016) diketahui kalau negara Turkmenistan juga sama tertutupnya dengan Korut.

Seperti dijelaskan oleh LSM Freedom House, bahwa Turkmenistan berada pada ranking 178-180 untuk urusan keterbukaan demokrasi. Hanya dua urutan lebih baik dari Eritrea dan Korut. Tentunya hal itu bukan tanpa alasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti Korut, Presiden Gurbanguly Berdimuhamedow juga sangat membatasi informasi di dalam negerinya. Bahkan pada tahun 2014 silam, sang presiden hampir memegang penuh kontrol atas media. Singkat kata media sangat dikontrol oleh pemerintah. Tidak ada suara sumbang.

Kota Ashgabat yang penuh bangunan marmer (Nellie Huang/BBC)


Untuk internet, masyarakat dan traveler memang dapat mengaksesnya di sejumlah institusi Turkmenistan. Akan tetapi aturan hukum yang ada juga melarang kebebasan di dunia internet. Anda akan dibatasi untuk mengakses situs yang dianggap ilegal serta tak boleh berkata sumbang di internet. Coba-coba menghina presiden, sudah pasti masuk penjara.

Apabila ada jurnalis atau siapa pun yang mencoba mengkritik pemerintah akan otomatis di-blacklist dan dilarang untuk traveling baik ke dalam atau luar negeri. Sudah begitu, tidak jarang juga terjadi perlakuan kasar oleh pemerintah bagi siapa pun yang berontak.

Sedangkan dari segi ekonomi, siapa pun yang datang seakan dihipnosis oleh megahnya Ibukota Ashgabat yang dihiasi oleh berbagai bangunan marmer dan patung emas sang penguasa. Namun di baliknya, kondisi ekonomi rakyatnya ternyata tidak seindah yang terlihat di lapangan.

Masjid Ertugrul Ghazi (Nellie Huang/BBC)


Jika ingin mendapat visa dan traveling ke Turkmenistan, ada dua cara yang bisa ditempuh. Cara pertama adalah dengan mendaftar ke tur terbatas yang dikenal sangat mahal. Cara kedua adalah dengan transit visa dengan masa berlaku tiga hingga lima hari.

Tapi perlu diingat, bahwa Anda harus sudah menyertakan itinerary, waktu kedatangan dan keluar di atas kertas. Namun perlu diingat, kelengkapan data bukan jaminan bahwa visa Anda akan diterima. Kadang pihak pemerintah sering membatalkan visa traveler tanpa alasan jelas. Sesukanya saja.

Sungguh sayang beribu sayang. Padahal Turkmenistan punya sejumlah objek wisata keren, misalnya seperti Kota Merv yang merupakan salah satu Jalur Sutra, Yangykala Canyon, hingga Kawah Darvaza Gas atau yang populer disebut 'Pintu Neraka Turkmenistan'. Tapi begitulah, negaranya sangat tertutup.

Kawah Darvaza Gas atau 'Pintu Neraka Turkmenistan' (Nellie Huang/BBC)


Singkat kata Pemerintah Turkmenistan sangat membatasi informasi dari luar ke dalam, begitu juga sebaliknya. Mungkin itu merupakan salah satu upaya pemerintahnya untuk menjaga stabilitas negara, yakni dengan mengurung diri. Presiden Turkmenistan sendiri mengukuhkan negaranya sebagai negara netral pertama di dunia.

"Turkmenistan tidak butuh pariwisata untuk mendukung ekonominya," ujar pemandu wisata lokal bernama Murat seperti diberitakan media News Australia.

Namun jika Anda tetap ingin bersikeras untuk menjelajah negeri eksotis Turkmenistan, salah satu penyedia tur resmi bernama Dragoman bisa membantu Anda. Tapi ketika berhasil dapat visa, gerak-gerik Anda juga akan diawasi oleh kamera CCTV hingga pengawas. Tidak bebas.

Entah sampai kapan Turkmenistan akan berdiam diri dan menutup diri untuk wisatawan. Semoga ke depannya negara Turkmenistan kian terbuka, sehingga traveler dapat menikmati segala keindahan yang ada di dalamnya. Mungkin...

Pedagang makanan di Ashgabat (Nellie Huang/BBC)
(rdy/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads