Keliling Istanbul Naik Metro dan Trem Tertua Kedua di Dunia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Turki

Keliling Istanbul Naik Metro dan Trem Tertua Kedua di Dunia

Angga Aliya - detikTravel
Selasa, 21 Jun 2016 12:52 WIB
Kereta trem di Istanbul, Turki (Angga/detikTravel)
Istanbul -

Saat liburan ke Turki, sempatkanlah untuk berkeliling Kota Istanbul naik trem. Asal traveler tahu, jaringan trem di kota ini merupakan yang tertua kedua di dunia.

Sudah banyak kota di dunia yang mempunyai jaringan transportasi massal. Salah satu yang tertua di dunia ada di Istanbul, Turki. Jaringan kereta bawah tanah di Kota Segala Kota ini sudah beroperasi sejak 17 Januari 1875.

Kereta bawah tanah ini merupakan yang kedua tertua di dunia setelah London yang dibangun pada tahun 1863. Sampai saat ini, ada 7 jalur (line) metro di Istanbul sisi Eropa, sementara di sisi Asia ada 3 jalur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada sekitar 70 stasiun yang tersebar di antara jalur-jalur tersebut. Layanan Metro Istanbul ini mulai beroperasi pukul 06.00 pagi waktu setempat dan tutup pada pukul 24.00.

Tiketnya cukup terjangkau, yaitu 2,3 lira (Rp 11.500) sekali jalan. Satu kartu Metro bisa digunakan oleh beberapa orang sekaligus. Bahkan, orang kedua yang memakai kartu tarifnya lebih murah dari orang pertama.

Suasana stasiun metro (Angga/detikTravel)

Kartu tiket tidak perlu digunakan saat keluar stasiun karena tinggal mendorong gerbang putar saja di pintu keluar.

Akhir pekan lalu, detikTravel berkesempatan menjajal salah satu jaringan kereta bawah tanah tertua di dunia ini. Setiap stasiun Metro Istanbul dihias dengan keramik dinding yang indah bergambar pemandangan khas Turki.

Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Ataturk. Rombongan kami berjumlah enam orang, semuanya hanya menggunakan satu kartu Metro.

"Orang pertama masuk 2,3 lira, yang kedua dan selanjutnya 1,6 lira," kata salah satu WNI yang tinggal di Istanbul, Ega Graha Mulya kepada detikTravel beberapa pekan lalu.


Suasana di dalam Metro (Angga/detikTravel)

Tujuan kami ke Distrik Sultanahmet yang memuat banyak lokasi bersejarah seperti Sultan Ahmed Mosque atau biasa disebut Blue Mosque karena langit-langitnya yang bernuansa biru, hingga Grand Bazaar pasar yang sudah dibuka sejak tahun 1455.

Setiap stasiun, kereta berhenti sekitar 2 menit sebelum berangkat lagi. Dengan waktu yang cukup panjang itu tidak perlu takut ketinggalan kereta. Meski tertinggal, kereta berikutnya pun bisa sampai kurang dari 10 menit.

Untuk mencapai distrik tersebut, kami harus turun di Stasiun Aksaray dan melanjutkan perjalanan dengan trem. Ongkos trem juga sama dengan metro, tarif rombongan pun berlaku sama.

Bedanya, trem ini berjalan di atas jalan, bukan di bawah tanah seperti metro. Trem di Istanbul juga merupakan salah satu yang tertua di dunia, dibangun pada 1860 bertenaga kuda.


Traveler antre tertib masuk ke kereta trem (Angga/detikTravel)

Lalu dikonversi menjadi trem listrik pada 1912. Sempat ditutup pada 1966, trem listrik ini kembali beroperasi pada 1992 sampai sekarang.

Trem ini lebih banyak beroperasi di Istanbul sisi Eropa ketimbang sisi Asia. Bagian dalam trem pun terlihat bersih dan nyaman dengan beberapa tempat duduk di tiap gerbongnya.

Trem yang kami naiki sudah berbentuk gerbong modern. Namun menurut Ega, ada satu jalur trem yang masih menggunakan gerbong tempo dulu.

"Trem yang lama masih beroperasi, masih ada beberapa," ujarnya.

Bedanya dengan metro, naik trem bisa sambil melihat-lihat pemandangan situs historikal di sekitar Istanbul.


Suasana di dalam kereta trem (Angga/detikTravel)

(wsw/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads