Melancong ke Kota Peti Mati di El Savador, Berani?

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Melancong ke Kota Peti Mati di El Savador, Berani?

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Jumat, 24 Jun 2016 08:50 WIB
Melancong ke Kota Peti Mati di El Savador, Berani?
Jucuapa, kota peti mati di El Savador (Jose Cabezas/Reuters)
Jucuapa - Saat melancong ke Kota Jucuapa di El Savador, traveler akan melihat banyak peti mati bergeletakan. Jangan kaget, karena inilah Kota Peti Mati.

Traveler biasanya mencari sesuatu yang khas dari daerah yang dikunjunginya, untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Namun bagi wisatawan yang melancong ke Kota Jucuapa di El Savador mau beli benda khasnya pasti pikir-pikir dulu, karena kota satu ini terkenal sebagai penghasil peti mati.

Dilansir dari Reuters, Jumat (24/6/2016), Kota Jucuapa merupakan kota kecil berpenduduk kurang lebih 18 ribu jiwa. Kota ini terletak sekitar 116 Km di sebelah timur San Salvador, ibukota negara El Savador.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota Jucuapa menjadi unik, karena kota ini mengandalkan industri peti mati sebagai penopang ekonomi utama bagi para penduduknya. Tercatat ada 18 perusahaan peti mati yang beroperasi di kota ini.


Membuat peti mati jadi pekerjaan utama warga Jucuapa (Jose Cabezas/Reuters)

Tentu saja pemilihan peti mati sebagai industri utama di Jucuapa bukannya tanpa alasan. Tingginya angka kematian di Jucuapa, terutama di El Savador secara keseluruhan menjadi penyebabnya.

Sepanjang tahun 2015 saja, hampir 70% angka kematian di El Savador disebabkan oleh perang antar geng. Angka kematian ini di 3 bulan pertama tahun 2016 pun terus meningkat, rata-rata mencapai 22 orang setiap harinya.

Tingginya angka kematian ini membuat kebutuhan akan peti mati di El Savador sangat tinggi. Hampir setiap hari di Kota Jucuapa, mobil pengangkut peti mati lalu-lalang mengantarkan pesanan. Tak hanya ke kota mereka sendiri, melainkan hingga ke seluruh penjuru El Savador dan juga dieskpor ke negara lain seperti Honduras dan Guatemala.


Anak-anak bekerja membuat peti mati (Jose Cabezas/Reuters)

"Ada atau tidak ada pembunuhan, kami akan selalu tetap bekerja, karena peti mati ini sudah ada yang memesan hingga ke luar negeri," ujar Jose Flores (24), pekerja yang dibayar USD $15 (setara Rp 198 ribu) untuk setiap peti mati yang dia kerjakan.

Kesulitan ekonomi membuat anak-anak muda Jucuapa pergi bermigrasi ke kota yang lebih besar, demi hidup yang lebih baik. Sementara sisanya memilih bertahan di Jucuapa, menjadi buruh kebun kopi, bertani kecil-kecilan dan tentu saja menjadi pembuat peti mati.


Bagi anak-anak ini, bermain di antara peti mati adalah hal biasa (Jose Cabezas/Reuters)

Satu peti mati paling murah dihargai sebesar USD $100 (setara Rp 1,3 Juta), sementara yang paling mahal bisa mencapai USD $1.200 (setara Rp 15 Juta). Harga peti mati tergantung dari kualitas bahan baku kayu yang digunakan.

Perang antar geng demi bisnis narkoba benar-benar membuat penduduk di Jucuapa merana. Padahal di kota ini ada beberapa destinasi wisata menarik yang patut dikunjungi seperti beberapa katedral tua dan juga restoran lokal yang lezat untuk berwisata kuliner.

Bagi anak-anak dan warga Jucuapa, bermain serta berinteraksi dengan peti mati sudah menjadi keseharian mereka. Traveler yang berkunjung ke kota ini tidak usah heran dan kaget melihat pemandangan seperti itu ya.


Sementara anak-anak main, para ibu-ibu membuat dalaman peti mati (Jose Cabezas/Reuters)

(wsw/fay)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads