Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 14 Okt 2016 17:20 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Mengenal Museum Jihad di Afghanistan

Diorama Mujahidin di Museum Jihad, Afghanistan (BBC)
Herat - Dahulu Uni Soviet pernah menginvasi Afghanistan pada tahun 1979. Sejarah kelam itu pun diceritakan melalui diorama di Museum Jihad.

Terletak di salah satu puncak bukit yang ada di Kota Herat, Afghanistan, dapat ditemui Museum Jihad. Dilansir detikTravel dari BBC, Jumat (14/10/2016) di dalamnya traveler dapat melihat sejarah perjuangan Mujahidin saat invasi Uni Soviet.

Sejarahnya Uni Soviet pernah melakukan invasi ke Afghanistan pada tahun 1979 silam. Kala itu, para Mujahidin yang dibantu oleh AS mempertaruhkan nyawa atau melakukan jihad untuk mengusir pasukan Uni Soviet dari tanah mereka.

Setelah melakukan jihad selama 10 tahun, akhirnya pasukan Mujahidin berhasil mengusir Uni Soviet pada tahun 1989. Perang itu pun telah merenggut nyawa sekitar 1 juta penduduk Afghanistan dan 15 ribu tentara Soviet.

Berkunjung ke Museum Jihad, traveler pun bisa melihat aneka diorama perjuangan para Mujahidin dalam melawan pasukan Uni Soviet. Diketahui kalau museum itu dibangun oleh politisi dan bekas pejuang Mujahidin, Ismail Khan pada tahun 2010.

Diorama perang Mujahidin melawan Uni Soviet (Mohammad Shoib/Reuters) Foto: (BBC)
Diorama perang Mujahidin melawan Uni Soviet (Mohammad Shoib/Reuters)
Namun beberapa diorama tersebut juga ada yang menggambarkan kekerasan, seperti pemukulan prajurit Soviet oleh para Mujahidin dengan cangkul. Mungkin tidak disarankan untuk membawa anak-anak.

Selain sejumlah diorama, di dalam Museum Jihad juga dapat ditemui aneka senjata dan seragam yang digunakan pada zaman itu. Contohnya seperti senapan AK-47, ranjau darat hingga seragam pasukan Uni Soviet.

Sedangkan di bagian luarnya terdapat helikopter Russia dan pesawat jet yang dikelilingi oleh kebun. Lalu dapat dilihat juga foto dari para pejuang Mujahidin. Kabarnya beberapa dari pejuang itu bahkan bekerja di Museum Jihad.

Pemandu di Museum Jihad (Raheb Homavandi/Reuters)Foto: (BBC)
Pemandu di Museum Jihad (Raheb Homavandi/Reuters)
Menurut pihak pengelola museum, mereka ingin menceritakan kengerian dari perang yang terjadi. Sehingga para generasi di masa depan dapat belajar dari masa lalu Afghanistan.

"Para masyarakat Afghanistan menanggung luka perang di hati mereka. Saya kira siapa pun tidak ingin melihat negerinya dihancurkan lagi," ujar asisten Museum Jihad, Sheikh Abdullah.

Afghanistan sendiri dikenal sebagai negara yang mengalami konflik dan perang berkepanjangan. Traveler mungkin tidak perlu berkunjung ke Museum Jihad untuk mengetahui sejarah konflik di Afghanistan.

(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA