Selepas melakukan boarding di bandara Schiphol, Amsterdam, Minggu (9/4/2017) lalu, detikTravel bersama tujuh wartawan asal Jakarta memutuskan untuk makan di restoran Kebaya Asian Brasserie. Dari luar, penampilan restoran ini cukup wah. Desain interiornya pun demikian.
Sejumlah foto perempuan asal Indonesia dalam balutan aneka kebaya terpampang besar-besar di dinding bagian atas. Semua itu cukup menjanjikan bagi untuk mendapatkan aneka menu Indonesia atau Melayu yang super lezat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Restoran Kebaya di Bandara Schiphol, Belanda (Sudrajat/detikTravel) |
Setelah lebih dari 30 menit menanti, dua pelayan datang menghampiri meja kami. Kami mulai saling lirik ketika si pelayan menyodorkan mangkok-mangkok berisi nasi goreng.
"Kok bukan di piring, ya?" bisik seorang teman. Saya tak terlalu menghiraukan. Bagi saya yang penting rasa, bukan wadah.
Sambil menunggu tiga teman lainnya menerima menu pesanan mereka, saya mencoba mencicipi nasi goreng di mangkok dengan sumpit. Bukan cuma rasanya yang tak sesuai bayangan, nasinya pun ternyata masih gigih alias belum sepenuhnya matang. Tapi saya diam, menunggu reaksi teman yang lain.
"Yah, kok nasinya begini. Belum mateng ini," celetuk beberapa teman dengan wajah meringis. Masygul!
Salah seorang dari kami akhirnya memanggil kepala pelayan. Seorang lelaki jangkung berwajah Melayu indo. Setelah dijelaskan kondisi yang terjadi, dia kembali ke dapur dan bercakap-cakap dengan beberapa koki.
"Memang benar, ada kekeliruan dengan menu ini. Kami siap memberikan diskon untuk Anda semua," ujarnya.
Sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan (Sudrajat/detikTravel) |
Selain menjanjikan diskon, si pelayan menawarkan untuk memasak ulang menu nasi goreng yang kami pesan. Atau menggantinya dengan menu lain. Itu artinya kami harus menunggu lagi lebih dari setengah jam. Padahal perut sudah keroncongan. Beberapa teman mulai naik pitam, karena sama sekali tak ada penyampaian maaf.
"Hei, Anda ini berani memakai nama Kebaya tanpa memahami filosofinya. Itu simbol Asia yang lekat dengan keramahan dan harga diri. Jika Anda menjamu tamu dengan tidak mengedepankan keramahan dan kepuasan, itu sama saja Anda mereduksi nilai-nilai kebaya," kata Nasrullah Nara dari Kompas.
"Coba Anda bayangkan: betapa banyak orang Asia bisa tersinggung dengan ketidak profesionalan ini," imbuhnya.
Eva Wondo, satu-satunya perempuan dalam rombongan kami ikut menimpali. Wartawati Metro TV itu menyampaikan kekecewaan yang sangat terhadap manajemen restoran tersebut.
"Ini menu khas Indonesia, kami tahu betul bagaimana harus mengolahnya. Tapi kalian sangat memalukan. Saya harap kalian minta maaf," ujarnya dalam nada yang berusaha ditenang-tenangkan.
Setelah menerima dampratan seperti itu, si pelayan akhirnya meminta maaf.
"Kami akan memberikan diskon sebagai bentuk maaf," ujarnya.
Tapi Charles Meikyansah yang juga dari Metro TV menyergah. "Tak perlu. Saya akan bayar penuh semuanya," kata Charles sambil menuju kasir.
Kami pun serempak meninggalkan restoran tersebut tanpa menoleh lagi ke mangkok-mangkok berisi nasi goreng yang mentah tersebut. Sungguh, suatu pengalaman yang cukup mengecewakan. (jat/wsw)












































Restoran Kebaya di Bandara Schiphol, Belanda (Sudrajat/detikTravel)
Sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan (Sudrajat/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru