Soal kemacetan, Bangkok di Thailand tidak kalah dengan Jakarta. Walau memiliki moda transportasi MRT atau yang disebut BTS (Skytrain), jalanan Bangkok tetap ramai dengan kendaraan. Khususnya pada jam pergi atau pulang kerja.
Ketika detikTravel berkunjung ke Bangkok beberapa waktu lalu, kemacetan juga sempat beberapa kali dialami ketika bepergian dengan taksi. Kebetulan saat itu hotel juga berlokasi tepat di daerah kota, di kawasan Silom tepatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengetahui tujuan saya, pihak hotel pun langsung memberikan saya opsi lain untuk mencapai Asiatique. Bukan naik taksi atau BRT, tapi lewat sungai. Ya, Anda tidak salah dengar.
Seperti diketahui, Bangkok dilewati oleh Sungai Chao Phraya yang berseumber dari Nakhon Sawan dan bermuara di Teluk Thailand. Selain mempercantik Bangkok, Sungai Chao Phraya juga menjadi jalur transportasi air bagi feri hingga speedboat dan kapal wisata.
Kebetulan, Asiatique juga terletak tepat di salah satu tepi Sungai Chao Phraya. Dari hotel, saya pun berjalan kaki menuju salah satu dermaga pemberhentian yang kebetulan berada tidak jauh.
Setibanya di dermaga, traveler pun harus mengantre lebih dulu sambil menunggu kapal boat datang. Namun sedikit beda dengan kapal boat di Indonesia, kapal boat di Bangkok memang dikhususkan untuk tujuan wisata dan dilengkapi dengan sejumlah kursi hingga hiasan berbentuk rumah khas Thailand di atas perahunya.
Setelah menunggu sekitar 10 hingga 15 menit, akhirnya kapal boat yang ditunggu-tunggu datang. Para traveler pun mengantre dan masuk dengan tertib. Ada juga petugas yang membatasi jumlah penumpang agar tidak kelebihan muatan.
Di atas kapal boat, mata pun dimanjakan oleh panoraman sejumlah bangunan yang meeriah di tepi Sungai Chao Phraya. Kebetulan saat itu sudah malam, lampu-lampu pun sudah menyala dan mempercantik panorama.
Kurang lebih 15 menit, saya dan penumpang lain pun tiba di Asiatique. Sudah cepat, nyaman pula. Kabar baiknya, saya menaiki kapal boat yang dimiliki oleh pihak Asiatique. Berhubung itu adalah kapal khusus yang disediakan untuk mengangkut tamu Asiatique, saya pun tidak dikenakan bayaran alias gratis!
Namun ketika pulang, saya tidak naik kapal boat Asiatique melainkan kapal penumpang biasa. Alhasil, saya pun harus membayar sekitar 40 baht (Rp 15 ribu) untuk biaya sekali jalan. Bayarnya pun di atas perahu, layaknya ditagih kenek di atas bus.
Saya pun berpikir, moda transportasi air seperti di Bangkok ini mungkin saja diterapkan di Jakarta dengan memanfaatkan Sungai Ciliwung yang juga melewati ibukota. Siapa tahu di masa depan? (rdy/aff)










































