Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 15 Jun 2017 12:55 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Sarapan Depan Masjidil Haram, Alhamdulillah Barokah!

Fitraya Ramadhanny
detikTravel
Sarapan di depan Masjidil Haram (Fitraya/detikTravel)
Sarapan di depan Masjidil Haram (Fitraya/detikTravel)

FOKUS BERITA

Rindu Tanah Suci
Makkah - Pernah coba sarapan pagi di kawasan Masjidil Haram, Makkah? Wisata kuliner khas Arab Saudi bersama ratusan jamaah lain adalah pengalaman penuh kenangan.

Usai salat subuh di Masjidil Haram, Makkah di Arab Saudi, para jamaah umroh termasuk dari Indonesia banyak yang kembali ke hotel untuk sarapan. Namun, sebenarnya itu adalah kesempatan istimewa untuk wisata kuliner sarapan pagi.

BACA JUGA: Sedapnya Wisata Kuliner Ayam Al Baik di Makkah

Keluar dari Masjidil Haram, biasanya jamaah umroh asal Indonesia akan menuju ke hotel di kawasan Ajyad atau Misfalah lewat Jalan Ibrahim Al Khalil. Nah mereka akan melewati samping Zamzam Tower atau Makkah Hilton Tower yang lantai bawahnya penuh dengan gerai kuliner.

Begitu salat subuh bubar, biasanya mereka sudah berjualan untuk jamaah yang mencari sarapan pagi. Seperti ketika detikTravel berada di sana beberapa waktu lalu.

Hiruk pikuk antre beli sarapan pagi (Fitraya/detikTravel)Hiruk pikuk antre beli sarapan pagi (Fitraya/detikTravel)


Ramainya jamaah dan warga mencari sarapan pagi sungguh menggugah selera untuk ikut sarapan bersama mereka. Apa saja sih pilihannya? Banyak banget!

Ayam dan kentang goreng, roti burger atau roti shawarma, mungkin paling cocok dengan lidah Indonesia. Ayam goreng ini kebanyakan meniru restoran Al Baik yang terkenal.

Cukup cari yang bertulisan Broast, biasanya itu gerai ayam goreng. Rasa ayamnya lebih penuh rempah dari pada di Indonesia. Aneka jenis kebab dan shawarma juga bisa menjadi pilihan untuk sarapan pagi. Atau kalau mau nasi, ada pilihan Nasi Biryani atau Nasi Mandi dengan daging kambing.

Tapi menarik juga melihat bangsa lain memilih menu sarapan mereka. Para jamaah dari Asia Selatan banyak membeli roti yang dimakan dengan segelas teh susu panas. Enak juga kayaknya ya....

Roti dan teh susu enak juga buat sarapan (Fitraya/detikTravel)Roti dan teh susu enak juga buat sarapan (Fitraya/detikTravel)


Makanan satu porsi dimakan sendiri seperti kebab atau burger harganya SR 5 (Rp 18 ribu). Sedangkan porsi Nasi Biryani atau Broast Chicken dengan 4 ayam harganya sekitar SR13-15 (Rp 53 ribu). Tapi porsi ini besar banget dan bisa untuk dimakan berdua untuk ukuran perut Indonesia.

Saat sarapan, banyak orang bersedekah. Jadi jangan heran kalau ada yang bagi-bagi roti shawarma gratis. Kalau jamaah mau bersedekah untuk fakir miskin juga bisa. Gerai-gerai ini menawarkan paket sedekah SR 4, 5, 7 dan 10 (Rp 14 ribu, 18 ribu, 25 ribu dan 35 ribu)

Mau makan dimana? Terserah. Banyak jamaah langsung duduk di pedestrian di bawah Zamzam Tower atau Hilton Tower di sebelahnya. Pelataran luar Masjidil Haram juga begitu luas dengan lantai marmer yang relatif bersih dan dingin untuk diduduki di pagi hari. Para jamaah langsung duduk saja mencari tempat yang asyik untuk sarapan.

Sarapan bersama di depan Masjidil Haram (Fitraya/detikTravel)Sarapan bersama di depan Masjidil Haram (Fitraya/detikTravel)


Bukan main rasanya melihat ratusan orang duduk menyebar menikmati sarapan mereka dengan aneka jenis pilihan menu yang ada. Ratusan burung dara terbang kesana kemari mematuki makanan burung dan menjadi hiburan.

Lampu-lampu Masjidil Haram satu persatu dimatikan, seiring hari yang semakin terang. Sementara lapak kaki lima menggelar dagangan mereka, siapa tahu jamaah yang kenyang sarapan mau belanja-belanja sorban, sajadah, tasbih dan aneka pernak-pernik lainnya.

Betapa bahagianya dalam suasana umroh kita bisa melihat umat Islam dari berbagai bangsa, beraneka bahasa dan warna kulit serta bahasa. Kita kumpul bersama untuk sarapan setelah dini hari semua bersujud dalam salat menghadap Sang Khalik. Suasana begini pasti bikin kangen kalau sudah pulang ke Tanah Air.

Pedagang kaki lima (Fitraya/detikTravel)Pedagang kaki lima (Fitraya/detikTravel)
(fay/msl)

FOKUS BERITA

Rindu Tanah Suci
BERITA TERKAIT
BACA JUGA