Hari ini, Jumat (23/6) malam, Barack Obama bersama keluarga telah mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali. Selama 6 hari, dia akan berlibur menikmati keindahan Pulau Dewata. Membuka lembaran saat menjabat sebagai Presiden AS, dia sudah banyak berkunjung ke berbagai destinasi dunia.
BACA JUGA: Arti Liburan Obama ke Bali dan Yogya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mari kita kenali Pulau Goree. Pulau kecil ini berjarak sekitar 1-2 km dari pelabuhan di Kota Dakar, ibukotanya Senegal. Pulaunya punya deretan pantai yang cantik, serta suasananya sangat tenang.
Dulunya Pulau Goree Adalah 'Neraka'
Tapi pada abad pertengahan, Pulau Goree bak neraka bagi orang-orang Afrika. Sebab mereka yang dijadikan budak akan ditahan di sana. Sejarah mencatat, pada abad ke-14 sampai ke-19 Pulau Goree menjadi pusat perdangan budak Afrika. Seluruh budak-budak dari Afrika akan ditampung di sana, yang kemudian oleh bangsa Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis dijual kepada para pelaut untuk diperdagangkan ke berbagai belahan dunia. Termasuk, sampai ke Amerika.
Budak-budaknya, ada yang dari anak-anak hingga orang tua serta pria dan wanita. Di daerah pelabuhannya, terdapat sekitar 20 rumah yang cukup besar bergaya bangunan Eropa. Di situlah, para budak akan disimpan. Meski terlihat besar dari luar, nyatanya penuh sesak. Bayangkan saja, satu ruangan sebesar 2 x 2 meter diisi oleh 20 orang lebih. Mereka akan saling berdiri berhimpitan, sampai-sampai tidur pun harus berdiri.
Belum selesai sampai di situ. Beberapa penyiksaan yang dialami para budak, sungguh tidak manusiawi. Kaki mereka, baik yang kanan dan kiri akan diberi pemberat sebesar 5 kg agar tidak kabur. Makanan yang diberi juga tidak layak. Tak sedikit budak yang meninggal di sana, lalu dikebumikan dengan cara dibuang ke laut begitu saja.
Saat proses jual beli, budak-budak akan disuruh bugil dan berjalan di depan para pembeli. Sudah fisik yang disiksa, mentalnya dihancurkan pula. Miris!
Tercatat sudah lebih dari 50 ribu budak Afrika yang pernah merasakan kejamnya Pulau Goree. Harga jual mereka, tergantung dari betapa kuatnya dan berasal dari etnis mana.
Setelah AS dibawah pimpinan Abraham Lincoln pada awal abad ke-19 menghapus perdagangan budak, maka pelan-pelan berakhir pula perdagangan budak di dunia. Pulau Goree pun ditinggalkan oleh bangsa barat, yang penduduknya kembali dapat menjalani hidup dengan normal.
Tahun 1978, UNESCO memasukan Pulau Goree sebagai salah satu Warisan Dunia. Bangunan-bangunan bersejarah di sana tetap terjaga dan dirawat dengan baik. Sebagai suatu kenangan, yang menggambarkan betapa suramnya perbudakan di zaman dulu.
"Pulau Goree adalah bukti, ketika kita tidak membela hak asasi manusia," kata Obama mengenai pulau tersebut.
Dari foto-foto yang dipublikasikan Official White House Photo, Obama datang ke sana dengan kemeja putih. Selama mengelilingi bangunan bekas penampungan budak, raut wajahnya tampak sedih dengan dahi mengkerut.
Ada pula foto Michelle Obama yang terlihat, dirinya sedang memandang ke luar jendela sambil melihat anak-anak kecil bermain di sekitar bangunannya. Tentu, satu foto bisa mengartikan 1.000 cerita bukan?
Selain Presiden AS Barrack Obama, beberapa tokoh dunia seperti mendiang Nelson Mandela, Paus Yohanes Paulus II dan George W Bush juga pernah berkunjung ke Pulau Goree. Kini pulaunya dihuni oleh sekitar 1.300 orang yang hidup dengan damai dan tenang.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru