Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 18 Okt 2017 07:45 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Kebayang Nggak Sih, Rumah Mungil Ini Dulu Dihuni 40 Orang

Foto: Johanes Randy
Foto: Johanes Randy
Kowloon - Padat tanpa sanitasi bersih, itulah gambaran yang tepat untuk Kowloon di Hong Kong tahun 1940-an. Bayangkan saja, satu rumah bisa menampung 40 orang.

Kisah masa lalu tentang Kowloon itu pun masih dapat dilihat di Stone House, Junction Road 133, Hong Kong. Bersama dengan Hong Kong Tourism Board, detikTravel dan d'Traveler pemenang kompetisi Goes to Hong Kong melihat langsung rumah lama peninggalan sejarah di Kowloon itu beberapa waktu lalu.

Pagi itu, matahari begitu terik saat kendaraan yang ditumpangi detikTravel menepi di depan sebuah area dengan nama tempat Junction Rod 133 di Kowloon. Berhubung masih pagi, tidak tampak kesibukan di sana.

Tanpa menunggu lama, pemandu rombongan yang bernama Carolus Chui langsung mengarahkan kami untuk masuk dan berhenti di depan sebuah rumah berdinding batu yang tampak bersejarah.

detikTravel bersama d'Traveler Goes to Hong Kong (Randy/detikTravel)detikTravel bersama d'Traveler Goes to Hong Kong (Randy/detikTravel)
Sekitar lima menit menunggu, seorang pemandu lokal dengan inisial K.C. langsung menyambut dan menjelaskan tentang kisah rumah dengan papan tulisan Cantonese di atasnya.

"Rumah ini umurnya sudah 80 tahun, sebelum 1940 rumah ini punya marga orang kaya bernama Mr Ho. Jepang datang disita tahun 1941," ujar K.C.

Di bawah pendudukan Jepang tahun 1940-an, daerah sekitar Kowloon memang tengah dilakukan pelebaran bandara. Tak sedikit aset penduduk lokal yang disita oleh Jepang.

Para warga lokal saat itu pun melakukan urunan untuk membangun rumah dua lantai kala itu. Namun walau membangun secara urunan, rumah yang telah dibangun masih akan diundi untuk kepemilikannya. Bagi yang beruntung bisa memiliki lahan di depan, jika tidak beruntung akan mendapat lahan yang lebih sempit di belakang.

"Di sini ada lima unit rumah yang masih aktif. Ini yang paling bagus. Satu rumah ini bisa dihuni 5 KK, masing-masing 6-7 orang. Bisa sampai 40 orang," ujar K.C. sambil menunjukkan interior rumah yang cukup sempit.
 Rumah ini bisa dihuni hingga 40 orang (Randy/detikTravel) Rumah ini bisa dihuni hingga 40 orang (Randy/detikTravel)

Di lantai pertama, tampak sebuah ruangan berbentuk kotak yang cukup sempit. Dahulu lantai itu terisi oleh tempat tidur susun untuk sekitar 6 keluarga sekalgus. Di belakangnya ada satu ruangan yang berukuran lebih kecil, berfungsi sebagai dapur.

Di salah satu sisinya juga dapat dijumpai tangga yang mengarah ke lantai dua dengan format yang sama. Namun yang lebih mengejutkan lagi, adalah toilet yang ada di belakang rumah.

Tersembunyi di pojokan belakang rumah, ada sebuah pijakan kaki dengan lubang kecil di bawahnya. Konon toilet semi terbuka itu juga dipakai oleh sekitar 40 penghuninya kala itu.

"Dulu tiap keluarga punya tong kecil untuk menampung sisa kotoran. Setelah itu, tong kotoran itu ditaruh di dalam rumah. Besok paginya baru ditaruh di depan rumah lalu diambil tukang sampah khusus kotoran," ujar K.C.

Toilet di belakang rumah yang sederhana (Randy/detikTravel)Toilet di belakang rumah yang sederhana (Randy/detikTravel)

Mendengar kisah yang dituturkan K.C. tentunya membuat kepala ini geleng-geleng. Tidak terbayang betapa padat dan sulitnya kondisi masyarakat Kowloon kala itu.

Untungnya kondisi itu tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1960, telah dibangun toilet umum untuk masyarakat Kowloon. Ya, walaupun jatah air juga sangat dibatasi kala itu.

"Tahun 1960 baru ada toilet umum di luar, tapi airnya sangat terbatas. Empat hari baru ada air sekali tiap satu jam," cerita K.C.

Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi masyarakat di Kowloon pun mulai berangsur membaik. Walau kini ada banyak rumah susun yang menghiasi langit Kowloon, tapi masyarakatnya sudah hidup dengan sanitasi layak.

Rumah bersejarah itu pun telah difungsikan sebagai museum untuk mengingat kisah Kowloon di masa lalu. Traveler pun bisa mengunjunginya dari hari Selasa hingga Minggu, kecuali saat hari libur Senin. (rdy/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED