Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 02 Nov 2017 17:50 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Makan Bareng, Cara India Menghormati Orang Meninggal

Ahmad Masaul Khoiri
Redaksi Travel
Tradisi Pitru Paksha di India (Dok. dna_india/Instagram)
Tradisi Pitru Paksha di India (Dok. dna_india/Instagram)

FOKUS BERITA

Merayakan Kematian
New Delhi - India memiliki tradisi Pitru Paksha untuk menghormati keluarga yang sudah meninggal. Selama ritual nantinya juga ada makanan dan nasi yang disajikan.

Dihimpun detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (2/11/2017), ritual ini dilaksanakan selama 16 hari. Jadi orang yang hidup melakukan ritual Sharaddha di dalam pikiran mereka untuk membantu para roh menyeberang ke alam keabadian.

Mitologi Hindu mengatakan bahwa 3 generasi setelah leluhur meninggal, roh berada di antara langit dan bumi yang disebut pula Pitru Loka. Di India Utara dan Nepal, ritual ini mengikuti kalender purnimanta atau kalender matahari.

Dalam Pitru Loka diperintah oleh Yama atau dewa kematian yang membawa jiwa manusia yang sekarat dari Bumi. Ketika seseorang dari generasi berikutnya meninggal, generasi pertama bergeser ke surga dan bersatu dengan Tuhan. Jadi, hanya tiga generasi di Pitru Loka yang diberi ritual Sharaddha.

Menurut mitologi Hindu, tradisi persembahan Sharadh (sumbangan) selama Pitru Paksha dikaitkan dengan kisah mitologi Karna. Karna adalah orang yang telah menyumbangkan emas dan hal-hal berharga lainnya sepanjang hidupnya untuk membantu yang membutuhkan dan tertindas.

Saat dia meninggal, jiwanya pergi ke surga, di mana dia diberi emas dan perhiasan untuk dimakan. Saat dia pergi ke Dewa Indra untuk mengetahui alasannya dan mengatakan kepadanya bahwa meskipun menyumbangkan banyak hal, terutama emas selama hidupnya, dia tidak pernah menyumbangkan makanan kepada nenek moyangnya.

Karna beralasan dia tidak menghormati akan leluhurnya itu, berarti dia tidak pernah menyumbangkan apapun. Jadi Dewa Indra membiarkan Karna kembali ke bumi untuk melakukan Sharaddha dan mencari penebusan.

Dipercaya bahwa selama periode 16 hari ini nenek moyang seseorang turun ke bumi untuk memberkati keluarga mereka. Melakukan ritual ini juga dipercaya membantu leluhur seseorang menyeberang ke alam nasib mereka.

Ritual Sharaddha biasanya dilakukan anak laki-laki tertua dari sebuah keluarga. Setelah mandi ia diminta memakai cincin yang terbuat dari rumput kush yang mentyimbolkan kebajikan dan digunakan untuk memanggil leluhur.

Makanannya pun dipersiapkan secara khusus untuk acara ini. Jika ada burung gagak yang dianggap utusan Yama memakan makanan, maka itulah tanda keberuntungan. Selanjutnya, para imam Brahmana ditawari makanan yang telah dikonsumsi oleh keluarga mereka.

Namun, ada beberapa hal yang harus dihindari selama Pitru Paksha. Pertama hindarilah membeli dan mengenakan baju baru, mencuci rambut, memotong rambut, dan bahkan mencukur kumis dilarang selama ritual ini, terutama pada hari terakhir, yang disebut Mahalaya Amavasya.

Adapun makanan non vegetarian termasuk bawang merah dan bawang putih dilarang dalam ritual ini. Hanya seseorang yang melakukan ritual dengan kesungguhan dan tidak ada kejahatan di dalam hatinya, dipercaya usahanya akan berhasil.

Jadi, penting untuk menghapus pikiran-pikiran negatif dan memberi hormat kepada nenek moyang seseorang dengan sangat tulus dan hormat. Hal yang juga penting adalah menahan diri dari kegiatan bersenang-senang agar ritual tersebut dapat berhasil. Sungguh ritual dan tradisi yang rumit, ya!

(rdy/aff)

FOKUS BERITA

Merayakan Kematian
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED