Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 29 Jan 2019 16:10 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Temple of Confusius, di Mana Semua Orang Berderajat Sama

Bona
detikTravel
Temple of Confusius di Qufu (Bonauli/detikTravel)
Temple of Confusius di Qufu (Bonauli/detikTravel)
Qufu - Confusius menjadi cendikiawan China yang ajarannya masih digunakan sampai sekarang. Tempat terbaik untuk mengetahui sejarahnya ada di Temple of Confusius.

Perjalanan ke Kota Qufu memang dikhususkan untuk mengenang Confusius. detikTravel bersama Dwidaya Tour tak hanya berkunjung ke balai mewah Confusius tapi juga kelentengnya.

Masih berada di Kota Qufu, Provinsi Shandong, China, Temple of Confusius menjadi destinasi terbaik di sini. Pemerintah memberikan grade AAAAA untuk kelenteng yang dibangun lebih dari 2000 tahun lalu ini.

Temple of Confusius memiliki luas 140.000 meter persegi. Kelenteng ini dicatatkan menjadi warisan dunia oleh UNESCO. Menjadi salah satu dari 3 bangunan kuno terpenting China, Temple of Confusius menyimpan banyak cerita menarik.

Confusius lahir pada 28 September 551 sebelum masehi. Semasa hidupnya, Confusius menjadi pemikir dan pengajar. Ia begitu disegani oleh raja-raja karena pemikiran dan jasanya.

Untuk itu pada masa itu, banyak raja-raja yang datang ke kelenteng ini. Bahkan setelah Confusius tiada.

(Bonauli/detikTravel)(Bonauli/detikTravel)

"Ada satu syarat yang mesti dipatuhi oleh semua orang, termasuk raja. Siapa pun yang masuk ke kelenteng ini harus berjalan kaki," ujar Dennis, pemandu dari China International Travel Servis.

Padahal, raja-raja selalu berada di dalam tandu. Tapi di kelenteng ini, semua orang memiliki derajat yang sama. Semua orang, termasuk raja harus berjalan kaki.

Kelenteng ini sendiri dibangun dengan keapikan yang luas biasa. Wisatawan akan dibuat kagum dengan pepohonan yang ada di sekitar kelenteng.

Belum lagi sungai yang mengalir di dalam area kelenteng. Kicauan burung tak hentinya bersahutan menemani wisatawan.

"Ada cerita menarik tentang burung-burung ini. Mereka hanya akan terdengar di dalam area kelenteng," kata Dennis, sembari berjalan.

(Bonauli/detikTravel)(Bonauli/detikTravel)

Dennis bercerita bahwa burung-burung di area kelenteng ini sangat unik. Wisatawan tidak akan mendengar kicauan burung di luar kelenteng. Kicauan burung hanya terdengar di dalam Temple of Confusius.

"Ada beberapa orang yang mencoba untuk menangkap dan memelihara burung-burung di area ini. Tapi menurut cerita, burung-burung ini akan kembali ke kelenteng," jelas Dennis.

Melewati banyak gerbang, kelenteng ini masih terasa seperti jaman kerajaan. Bedanya, ada beberapa penjajak suvenir yang mangkal. Namun mereka tidak mengganggu wisatawan untuk membeli dagangannya.

Selain pepohonan, area kelenteng juga dihiasi oleh gazebo merah yang menjadi tempat penghormatan. Di dalam gazebo ini terdapat batu bi xi (patung kura-kura naga) peninggalan raja-raja yang datang berkunjung.

Di tengah area ini terdapat sebuah gazebo berukuran cukup besar yang di kelilingi oleh bangku di taman. Rupanya tempat ini menjadi tempat Confusius mengajar muridnya jaman dulu.

"Confusius akan mengajar dari dalam bangunan dan ratusan murid-muridnya akan duduk di halaman," sambung Dennis.

(Bonauli/detikTravel)(Bonauli/detikTravel)



Setelah melewati tempat pengajaran Confusius, tibalah wisatawan di kelenteng utama. Kelenteng ini memiliki 9 hewan sebagai tanda keagungan di ujung gentingnya.

Wisatawan yang mau berdoa bisa meletakkan dupa di tempat yang disediakan. Ada pula papan permohonan berwarna merah yang diletakkan di sisi kelenteng.

Papan doa ini dijual seharga 90 Yuan atau sekitar Rp 187.998 per buah. Banyak wisatawan yang datang dan mendoakan permasalahannya di papan doa ini.

Di dalam kelenteng terlihat altar pemujaan Confusius. Wajah patung Confusius ditutup setengah untuk penghormatan. Sedangkan di sisi kanan dan kiri Confusius berdiri patung-patung seniman ternama China.

Kebanyakan wisatawan yang datang ke kelenteng ini dalam kunjungan wisata rohani. Mereka datang dari berbagai wilayah China untuk menghormati Confusius.

(Bonauli/detikTravel)(Bonauli/detikTravel)


(bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED