Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 19 Okt 2019 20:15 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Masih Jomblo di Ultah ke-25? Di Negara Ini Ada Hukumannya

Bonauli
detikTravel
Ilustrasi Kota Kopenhagen di Denmark. (Thinkstock)
Ilustrasi Kota Kopenhagen di Denmark. (Thinkstock)
Kopenhagen - Status jomblo sebenarnya sah-sah saja. Tapi di sebuah negara, ada hukuman khusus bagi muda-mudi yang masih jomblo saat berulang tahun ke-25.

Hukuman itu sendiri lebih kepada tradisi unik dari masyarakat Denmark. Dihimpun detikcom dari berbagai sumber, perayaan ulang tahun ke-25 akan berbeda jika orang itu masih jomblo, lajang, atau belum menikah. Mereka akan disiram.

Jangan bayangkan siram-menyiram seperti di Indonesia. Secara spesifik, orang-orang Denmark menyiram sekujur tubuh si jomblo dengan bubuk kayu manis, atau acapkali disebut sebagai cinnamon challenge.


Tradisi ini biasa dilakukan oleh keluarga atau kawan terdekat. Si korban bakal diikat berdiri selama beberapa jam dan disiram dengan air. Setelah itu, barulah dilempari dengan bubuk kayu manis dari ujung kepala sampai kaki.




Meski terkesan sadis, tapi semua kegiatan ini dilakukan dengan hati-hati lho. Mereka akan terlebih dahulu memberi perlengkapan seperti masker atau kacamata untuk yang berulang tahun.

Yang ulang tahun harus pasrah. Mereka biasanya juga akan memegang bendera Denmark. Semua yang turut serta dalam tradisi ini tertawa. Tak ada istilah baper dalam melakukan lempar bubuk kayu manis.


Sebenarnya, tak ada maksud jahat dari tradisi ini. 'Hukuman' ini hanya sebagai pengingat untuk mereka yang jomblo supaya mencari pasangan.

Beda lagi kalau kamu jomblo di umur 30 tahun. Bukan lagi bubuk kayu manis, kamu akan dilempari dengan bubuk lada. Sama dengan tradisi sebelumnya, korban yang ulang tahun akan disiram air terlebih dahulu.




Untuk membuat tradisi ini lebih menyenangkan, keluarga atau sahabat akan menambah menu yang dilempar dengan telur. Sekali lagi, ini hanya untuk hiburan.

Melihat sejarahnya, tradisi ini sudah diturunkan selama ratusan tahun. Menurut mereka, tradisi ini dianalogikan dari pedagang rempah dahulu kala yang selalu bepergian ke luar negeri. Saking sibuknya, pedagang ini tak punya cukup waktu untuk mencari pasangan.


(bnl/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA