Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 14 Nov 2019 23:06 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Cerita Myanmar Pindahkan Ibu Kota, Sekalian Usir Hantunya

Putu Intan Raka
detikTravel
Selamat datang di Naypyidaw (iStock)
Selamat datang di Naypyidaw (iStock)
Naypyidaw - Ada cerita unik di balik proses pemindahan ibu kota Myanmar dari Yangon ke Naypyidaw. Sebelum mendirikan bangunan di ibu kota baru, mereka harus memindahkan hantu!

Naypyidaw yang berarti Rumah Para Raja, berbeda dengan kota lain di Myanmar. Jauh dari kesan padat, kota ini memiliki populasi yang jarang padahal wilayahnya luas. Di sana hampir tidak ada kemacetan dan hanya sedikit bangunan atau atraksi yang bisa dinikmati.




Orang-orang kerap menjuluki kota ini sebagai kota hantu. Akan tetapi kepercayaan lokal justru meyakini kota ini sebagai kota hantu yang ditinggalkan hantunya. Kok bisa?

Dilansir dari BBC (14/11/2019), cerita itu bermula pada 2010 ketika Kapten Aung Khant dari militer Myanmar ditugaskan untuk merelokasi pemakaman di Tatkon, salah satu daerah di Nay Pyi Taw. Tujuan relokasi itu untuk menjadikan lahan makam sebagai wilayah pembangunan biara dan pengadilan negeri yang baru.

Sudut-sudut jalanan di NaypyidawSudut-sudut jalanan di Naypyidaw (iStock)

Di Myanmar, merelokasi makam adalah tindakan kontroversial karena keluarga dari orang yang meninggal tidak suka dengan hal tersebut. Namun pada saat itu, rezim militer tengah berkuasa sehingga walaupun orang-orang Tatkon tidak suka, mereka juga tidak bisa protes. Salah satu penduduk Tatkon mengatakan, "pada saat itu, kami ada di bawah militer. Kami tak bisa menolak."

Selain keluarga yang tidak suka dengan rencana relokasi, penghuni makam alias para hantu di sana juga tak setuju. Seorang peneliti religi Burma (sebutan untuk Myanmar di kala dulu), Benedict Brac de La Perriere mengatakan, pada Perang Dunia II, Tatkon menjadi tempat dikuburnya para tentara Jepang.




Dalam kepercayaan orang Burma, mereka yang menderita saat kematiannya akan membuat residu spiritual dimana pemakaman pun tak akan bisa menebusnya. Penggusuran makam pun menjadi pekerjaan yang berisiko.

"Kami takut dengan hantu. Kalau mereka tidak mau pindah, mereka marah. Mereka membahayakan orang-orang kota," kata Kapten Aung Khant.

Oleh karena itu, Kapten Aung Khant akhirnya meminta bantuan dari natsaya, semacam paranormal yang bisa berkomunikasi dengan hantu di pemakaman Tatkon.

"Pemerintah menyewa truk-truk untuk memindahkan hantu. Mereka mempekerjakan natsaya untuk melihat dan menggiring hantu menuju truk. Ada 12 truk yang melakukan perjalanan 3 kali sehari, pemindahan dilakukan selama 3 hari," ujarnya.




Perhitungan itu tak sembarangan. Total 108 perjalanan itu melambangkan angka keberuntungan dalam numerologi Buddha.

"Ada lebih dari 1.000 makam yang dipindahkan. Jadi ada 10 hantu atau lebih dalam satu truk," katanya.

Menurut Kapten Aung Khant, hantu Myanmar ini punya ciri khas tersendiri. Tingginya mencapai 2 meter, perawakannya besar dan terlihat galak, dengan telinga dan gading yang sangat besar serta lidah yang sangat panjang.

Brac de La Parriere mengatakan kalau ini merupakan cerita yang umum tersebar di Myanmar. Ketika ia melakukan penelitian pada 1990, dia mendengar cerita serupa mengenai pemindahan makam di Yangon dimana hantu menyebabkan mesin bermasalah, truk berhenti atau bergerak sendiri, dan sopir ketakutan karena hantu itu menolak untuk dipindahkan.

Sejumlah kejadian ganjil juga terjadi 3 hari setelah relokasi selesai. Asisten dari Kapten Aung bermimpi didatangi 3 hantu yang masih tertinggal di pemakaman. Esoknya ia dan kapten mendatangi pemakaman itu dan menemukan tiga makam di bawah semak belukar yang belum direlokasi. Salah satu dari hantu itu menolak dipindahkan, ia lalu masuk ke mobil si asisten dan menyebabkan insiden kecil.




Selain itu, buldozer untuk relokasi juga sempat. Kucing di komplek perumahan Komite Pengembangan Naypyidaw juga mati tiba-tiba. Asisten dari Kapten Aung juga sempat melihat ada tangan hantu yang mendorongnya sampai jatuh dari tempat tidur. Kejadian aneh itu berhenti setelah ia memanggil biksu untuk mengusir arwah penasaran tersebut.

Salah seorang natsaya bernama U Nain La Shwe mengatakan sebelum proses relokasi pemakaman dilakukan ia sempat melakukan meditasi di sana. Ia mengatakan bahwa ia adalah pemuja Ma Phae Wa, roh pembawa peti mati. Roh itu sering datang kepadanya dan bertanya kepadanya apa yang dia butuhkan. Mereka berhubungan baik.

"Dia (Ma Phae Wa) adalah ketuanya. Dia bertanggung jawab atas semua roh di makam lainnya di Myanmar. Dia sangat bersih dan cantik," katanya.

U Nain La Shwe melihat proses relokasi hantu di Tatkon. Ia menyaksikan hantu-hantu berkerumun di truk dan melihat roda truk terjebak di pasir karena beratnya. Ketika natsaya memerintahkan hantu itu untuk turun, truk itu bisa bergerak lagi.

"Di pemakaman ada hukum yang terpisah," katanya.

Hukum itu mengharuskan jasa natsaya untuk memahaminya. Natsaya bisa menjembatani antara dunia orang hidup, orang mati, dan dunia roh.

Kehidupan masyarakat di NaypyidawKehidupan masyarakat di Naypyidaw (iStock)

Kini Naypyidaw telah menjelma sebagai sebuah kota yang menjadi harapan baru Myanmar sekaligus ibu kotanya di tahun 2006. Di kota hantu tanpa hantu, tidak ada yang perlu ditakutkan.



Simak Video "Aung San Suu Kyi Jalani Sidang di Mahkamah Internasional"
[Gambas:Video 20detik]
(aff/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA