Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Mar 2020 08:11 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Mottainai, Cara Jepang Selamatkan Bumi

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Kebersihan di Jepang
jepang punya sistem daur ulang yang canggih untuk selamatkan lingkungan. Foto: (iStock)
Tokyo -

Jepang meyakini filosofi mottanai yang lekat dengan ungkapan "sebutir nasi sejuta keringat". Apa maksudnya?

Ungkapan itu biasanya digunakan oleh orang tua untuk mendidik anak-anak agar menghabiskan makanan. Bukan dengan memaksa dan menakut-nakuti, namun orang tua di Jepang menerapkan filosofi agar anak-anak menyadari betul nasi yang ada di atas piring makan mereka merupakan usaha keras dari banyak orang.

Tak cuma larangan membuang-buang makanan, namun juga barang. Di Jepang, ajaran itu masuk dalam filosofi yang disebut mottainai.

Konsep mottainai ini berakar dari ajaran Buddha, yang meyakini adanya koneksi atau hubungan antara sebuah barang dengan pemiliknya. Dilansir dari BBC, Rabu (11/3/2020) melalui mottainai itu masyarakat Jepang melihat barang bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Makanya, keberadaannya harus dihargai.

Mottainai ini bahkan dimasukkan ke dalam konsep keberlanjutan (sustainability) yang disebut sebagai 'R' keempat, yaitu respect, setelah reduce, reuse, dan recycle.

Melalui respek ini, anak-anak diajak untuk menghargai peran dari sebuah barang dan berpikir ulang untuk membuang atau menyia-nyiakan fungsinya. Sebagai contoh, di Jepang, kita akan menemukan kudapan beras (senbaei) yang dibungkus menggunakan kertas tradisional yang disebut washi. Washi ini dapat digunakan kembali sebagai bungkus hadiah atau sampul buku.

Kertas washiKertas washi (Foto: BBC)

Tapi, filosofi mottainai ini perlahan mulai pudar di kalangan generasi zaman now Jepang. Realitasnya, Jepang merupakan penghasil sampah plastik per kapita terbesar kedua di dunia. Sampah ini bahkan lebih banyak dari sampah yang dihasilkan negara Uni Eropa.

"Konsep mottainai itu berakar dari budaya Jepang tetapi sekarang ada tendensi untuk tidak peduli tentang konsep ini," kata Kepala Kampanye MOTTAINAI, Tatsuo Nanai.

MOTTANAI adalah sebuah NGO yang dibentuk usai kedatangan pemenang nobel asal Kenya sekaligus aktivis lingkungan, Wanragi Matthai pada 2005.

"Ia (Matthai) mengetahui tentang mottainai dan dia sangat terkesan dengan konsepnya," kata Nanai.

Kekuatan mottainai ini memang terletak pada maknanya yang kompleks.

"Mottai berasal dari kata Buddha yang merujuk pada esensi dari sesuatu. Itu bisa diaplikasikan pada semuanya yang ada di dunia kita, menunjukkan bahwa setiap benda tidak terisolasi tetapi terkoneksi satu sama lain," kata Nanai.

Kata 'nai' sendiri merupakan negasi sehingga 'mottainai' dapat diartikan sebagai "ekspresi kesedihan atas hilangnya hubungan antara dua entitas, hidup dan tidak hidup."

Ikatan antara pemilik dengan sebuah benda atau barang adalah elemen fundamental dari budaya Jepang. Misalnya, sebuah mangkuk diperbaiki dengan sangat hati-hati di upacara minum teh. Selain itu ada upacara khusus untuk mengucapkan terima kasih pada barang-barang bekas.

"Ketika benda tidak bisa lagi digunakan, kita selalu mengatakan 'otsukaresama-deshita!' kepada mereka (barang-barang). Itu berarti 'terima kasih atas kerja kerasmu',"kata Nanai.

Mangkuk untuk minum teh akan diperbaiki bila rusak. Ilustrasi mangkuk untuk minum teh akan diperbaiki bila rusak. Foto: (dok Keio Plaza Hotel Tokyo)

Saat ini di tengah kehidupan modern dimana barang diproduksi secara massal dan masyarakat terpapar konsumerisme, koneksi antara benda dengan pemiliknya ini sulit dijaga sehingga membuat masyarakat berjarak dengan lingkungan tempatnya tinggal.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA