Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 19 Mei 2020 07:35 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Dulu Diusir, Kini Turis Didamba di Kota Terindah di Dunia Ini

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Hallstatt village in Alps at cloudy day, Austria
Foto: Desa Hallstatt di Austria (iStock)
Hallstatt -

Desa tercantik di dunia, Hallstatt, dulu kebanjiran turis sampai mau diusir-usir. Sekarang setelah sepi gegara virus Corona, mereka ingin para turis kembali.

Halstatt adalah sebuah desa kecil di Austria. Jumlah penduduknya cuma 780 jiwa. Meski kecil, tapi soal kecantikan tidak usah ditanya. Terletak di tepian danau, banyak traveler menyebut Halstatt sebagai desa tercantik di dunia.

Kecantikan Halstatt pun menarik minat wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Tahun 2019 saja, Hallstatt sudah dikunjungi oleh 1 juta wisatawan dari berbagai negara.

Tapi baru pada bulan Januari 2020, Wali Kota Hallstatt, Alexander Scheutz, mengeluarkan sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan. Dia ingin membatasi jumlah kunjungan turis ke desa yang dipimpinnya, sampai sepertiga. Scheutz menilai Halstatt sudah kebanyakan turis sehingga membuat penduduk lokal merasa tidak nyaman.

"Halstatt adalah kepingan penting dari sejarah dan kebudayaan, bukan sebuah museum. Sekarang ini sudah terlalu banyak (turis -red) dan dipersepsikan terlalu banyak, seperti sebuah kutukan," kata Scheutz kala itu dikutip dari media Daily Mail, Selasa (19/5/2020).

Ferry boat by the lakeside village of Hallstatt, Austria.Hallstatt, Austria. Foto: (iStock)


Tapi itu dulu, sebelum badai Corona singgah. Kini, saat pandemi virus Corona merajalela dan menerjang sektor pariwisata, Hallstatt pun kelimpungan. Mereka terkena dampak dari Corona. Hallstatt sepi sekali. Hampir tidak ada turis yang datang ke sana.

Pelaku bisnis dan industri pariwisata di Hallstatt pun mati suri. Mereka mulai merasa kehilangan turis. Salah satunya adalah Markus-Paul Derbl yang memiliki restoran, toko souvenir, dan beberapa bisnis lainnya di Hallstatt.

"Kami di Hallstatt, tentu saja, 95% bergantung pada turis asing dari Asia, Amerika dan negara Eropa lainnya. Jika perbatasan tetap ditutup, ini akan jadi situasi yang sangat sangat sulit bagi kami untuk menjalankan bisnis," kata Markus.


Selanjutnya
Halaman
1 2

BERITA TERKAIT
BACA JUGA