Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 12 Jun 2020 08:29 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Anak Kabut Penjaga Hutan Te Urewera dengan Tradisi Maori

Femi Diah
detikTravel
Long exposure image of a waterfall in lush rainforest of Te Urewera National Park in New Zealand
Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativeNature_nl
Jakarta -

Te Urewera, hutan terpencil di Selandia Baru, menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. Dijaga oleh anak kabut yang menerapkan tradisi suku Maori.

Selandia Baru bebas virus Corona. Tempat wisata sudah dibuka untuk wisatawan domestik. Diperkirakan agen-agen sedang menjaring pasar turis asing untuk mendatangi tempat itu. Termasuk Taman Nasional Te Urewera.

Hutan Te Urewera itu membentang sepanjang 2.127 km persegi di perbukitan terjal, danau biru-hijau yang luas, dan memiliki sungai yang airnya mengalir deras dan berjeram. Hutan tersebut berada di Taman Nasional Te Urewera.

Sebelum membuka pintu untuk wisatawan asing, pengelola Te Urewera, mengingatkan pelancong yang berminat traveling ke sana suatu hari nanti. Mereka meminta agar turis tidak hanya mencari tempat indah sebagai latar untuk berfoto.

Te Urewera memiliki hal-hal spesial yang sudah semestinya dijajal pelancong. Termasuk bagaimana pengelolanya yang merupakan masyarakat Tuhoe menerapkan tradisi suku Maori, sebagai penghuni pertama New Zealand, di kawasan itu.


Dikelola Suku Tahue Si Anak Kabut

Kabut putih melayang di semak-semak yang mengapit satu-satunya jalan menuju Te Urewera. Kabut yang kerap turun itu membuat Suku Tuhoe dijuluki "Children of the Mist" atau anak-anak kabut oleh ahli etnografi Elsdon Best pada tahun 1890-an.

Mereka memiliki tradisi lisan kuno yang menghubungkan Suku Tuhoe dengan Hine-pkohu-rangi, sang ibu kabut. Berjalan makin dalam ke Te Urewera di atas jalan tanah yang diapit semak, wisatawan diajak untuk menikmati keelokan hutan hujan terbesar di Pulau Utara, Selandia Baru itu.

[Gambas:Instagram]





Sejak 2014, Taman Nasional Te Urewera tak lagi dikelola pemerintah. Tercatat pula undang-udang itu sebagai yang pertama mengakui sebuah taman nasional dikelola secara sah dengan entitas hukum sendiri oleh sebuah kelompok masyarakat, warga Tuhoe.

Saat ini, Tuhoe dengan jumlah sekitar 40 ribu, dengan sekitar 7.000 di antaranya tinggal di lembah-lembah sungai Te Urewera dan area lahan terbuka. Merekalah yang bertanggung jawab secara legal atas perawatan hutan hujan itu.

Tradisi Maori...


Kaitiakitanga Tradisi Maori

Masyarakat Tuhoe itu melindungi taman nasional Te Urewera itu dengan menerapkan tradisi suku Maori yang sudah turun-menurun. Yakni, kaitiakitanga, yang diterjemahkan sebagai perwalian dan merupakan cara mengelola lingkungan berdasarkan sudut pandang dunia Maori.

Kaitiakitanga mengajak penganutnya untuk memahami hubungan erat antara manusia dan alam, melihat manusia sebagai bagian dari dunia alami dan melindungi mauri, atau kekuatan hidup, dari hutan, sungai, dan danau di bawah perawatan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktik kaitiakitanga mencakup pemantauan kesehatan hutan, danau, dan sungai melalui pengamatan dan pengumpulan data, penanaman pohon, pengendalian hama, juga menjaga possum (marsupial khas Australia, Papua Nugini, dan Sulawesi) dan rusa serta menjaga kesehatan stok ikan.

Bukan Cuma Tempat Selfie

Pemimpin suku, Tamati Kruger, mengatakan Te Urewera tak akan menolak kedatangan pelancong. Tapi, mereka akan mengontrolnya karena semakin banyak turis yang datang untuk berburu, memancing, dan mendaki di sekitar danau yang paling populer, Danau Waikaremoana.

Kruger bertekad menjadikan kawasan itu berbeda dengan taman nasional lain, meskipun misi itu tak akan mudah. Sebab, bagaimanapun sulit untuk mengubah ekspektasi traveler dengan stempel taman nasional yang suda melekat pada Te Urewera dan memang begitulah Te Urewera saat dikelola pemerintah selama 70 tahun.

"Bagi para pengunjung ke Te Urewera, mereka hanya tahu sistem taman nasional. Mereka berpikir menabung untuk liburan di bagian dunia yang indah, pergi ke sana, membayar layanan seperti akses bermalam di penginapan yang bersih dan kering," kata Kruger seperti dikutip BBC.

[Gambas:Instagram]




"Kemudian, pelancong kembali ke rumah dan merencanakan perjalanan berikutnya. Bagi banyak orang, itulah pengalaman mereka bepergian di alam. Kami meminta orang untuk sepenuhnya mengubah pendekatan itu," dia menambahkan.

"Alih-alih melihat alam sebagai satu paket sumber daya tersendiri untuk dikelola dan digunakan, kami meminta orang untuk melihat Te Urewera sebagai sistem kehidupan yang menjadi tumpuan orang lain untuk bertahan hidup, budaya, rekreasi dan inspirasi. Ini tentang berhubungan dengan Te Urewera sebagai identitasnya dalam arti fisik, lingkungan, budaya dan spiritual," Kriger menegaskan.

Sebagai kaitiaki (penjaga), beginilah cara Tuhoe selalu mengalami Te Urewera, kata Kruger, dan bahwa pengunjung perlu bersiap untuk melakukan hal-hal yang berbeda di sini.

"Mungkin ini bukan tentang mendapatkan foto terbaik dirimu di dekat air terjun atau kesepakatan pamungkas dalam perjalanan berburu. Mungkin ini tentang bertemu penduduk setempat, tinggal bersama kami, mempelajari beberapa sejarah kami dan mendengar beberapa cerita dan nilai-nilai yang membentuk gaya hidup kami," Kruger menjelaskan.

Kenalkan tradisi...

Kenalkan Tradisi

Taneatua, di markas besar suku Tuhoe yang terletak di pintu masuk utara Te Urewera, menawarkan tur jalan kaki dengan pemandu sendiri untuk tinjauan umum tentang sejarah suku, budaya, dan pengantar pendekatan lingkungannya.

Wisatawan bisa menginap di marae (tempat pertemuan tradisional Maori) dan mengikuti ritual tradisional. Pilihan lainnya, turis bisa berjalan-jalan di padang sabana dengan pemandu Tuhoe, yang mengajarkan tanga kanga lokal (protokol) bagi pengunjung yang ingin menikmati hutan Te Urewera dengan cara yang berbeda.

[Gambas:Instagram]





Mereka yang memasuki Te Urewera diharuskan melakukan mihi whakatau, sebuah ritual yang dirancang untuk mentransisikan pendatang baru dari dunia sehari-hari, ke dunia spiritual hutan hujan .

Setelah itu, pengunjung bisa mencicipi madu, makan dengan masakan buatan sendiri, berburu, dan menunggang kuda.

Menurut pemandu wisata Hinewai McManus, sedikit orang Selandia Baru yang datang ke Te Urewera untuk memahami budaya suku dan hubungan dengan alam. Justru traveler dari Eropa (Jerman dan Belanda, khususnya), China dan Amerika Serikat, yang mencari tahu kearifan lokal Suku Tuhoe.

Salah satu ritual yang dikenalkan adalah penanaman pohon. Bukan sekadar menambah jumlah tanaman di hutan itu, namun menanam pohon sama dengan menghormati Tane Mahuta, Dewa Hutan.

Dari ritual itu telah ditanam 12.000 batang pohon, yang ditranslokasi sejak Proyek Restorasi Hutan Hujan Te Urewera pada 2008.

"Ini tentang menumbuhkan pasokan oksigen global, mengimbangi limbah karbon, meningkatkan habitat dan makanan yang tersedia untuk burung-burung asli kami. Tetapi orang-orang juga tertarik pada sisi spiritual. Mereka ingin tahu mengapa suku saya merasa sangat menghormati lingkungan. Apakah hanya karena kami tinggal di sini atau ada sesuatu yang lebih dari itu?" kata McManus.

"Kami menghormati lingkungan karena tpuna (leluhur) kami dan pengetahuan tentang kelestarian dan hidup bersama alam yang diturunkan kepada kami," kata Brenda Tahi, pemandu Tuhoe, dan pemilik Tur Madu Manawa.

"Tetapi, kami juga menghormati alam karena kami ingin hidup di antara alam dan alam membutuhkan bantuan kami sekarang," dia menambahkan.

Dia mencontohkan bisnis keluarganya. Perusahaan tersebut memproduksi madu pohon asli dari 1.000 sarang lebah yang berlokasi di seluruh Te Urewera. Madu-madu dari lebah liar itu telah dipanen hampir selama 200 tahun, yang dikenal sebagai te nanao miere.

"Madu menjadi makanan yang dipuja rakyat kami, ketika lebah madu diperkenalkan ke Selandia Baru pada tahun 1830-an. Nenek moyang kami memanennya dengan cara yang berbeda, memanjat pohon, menggunakan ember. Menjaga lebah adalah bagian integral dari komitmen kami untuk menjaga ekosistem asli kami di Te Urewera," katanya.

"Lebah-lebah membantu menyerbuki begitu banyak spesies tanaman kami. Tetapi bertani madu juga tentang kemandirian ekonomi dan memberi orang-orang kami alasan untuk tinggal atau kembali ke Te Urewera," ujarnya.

Tur Madu Manawa menawarkan sensasi memanen madu lebah liar di tengah hutan kepada pengunjung. Mereka diajak berkuda memasuki hutan untuk memeriksa sarang lebah Manawa.

Mereka juga diajak menyusuri di tepi sungai, mengunjungi situs bersejarah, dan malamnya mendirikan tenda di tepi sungai di bawah bintang-bintang. Hebatnya, semuanya terangkai dalam kegiatan memanen madu.

Setelah makan malam, wisatawan disajikan minuman dari jeruk nipis panas dan teh madu. Tahi menjelaskan bahwa ia merancang Tur Madu Manawa untuk membantu pengunjung menjalin ikatan dengan tempat Te Urewera.

Tahi ingin para peserta tur, senang mendengar derasnya sungai, menghirup udara segar dan bersih dari hutan hujan. Dia ingin pengunjung mencicipi hidangan daging, sayur, buah, dan madu langsung dari alam.

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT