Saung Angklung Mang Udjo
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Teguh Budi Santoso

Saung Angklung Mang Udjo

- detikTravel
Rabu, 06 Apr 2011 11:55 WIB
Saung Angklung Mang Udjo
JAWA BARAT - Saung Angklung Mang Udjo,
Jl. Padasuka no. 118 Bandung,
Telp. (022) 727 1714

Ternyata angklung bukan cuma milik orang desa, lo. Salah satu buktinya, kini
banyak anak termasuk anak-anak bule yang belajar di Saung Angklung Mang Udjo
(SAMU). Sanggar yang merupakan tujuan wisata di Bandung itu, kini dikelola
Syam Udjo, salah seorang pewaris SAMU. Ia sendiri sibuk mengajar ke berbagai
sekolah yang mengundang dirinya untuk mengajar angklung. "Hampir seluruh SD
di Bandung dan sebagian Jabar punya pelajaran khusus musik angklung.
Guru-guru dari luar Jawa pun banyak yang belajar di sini," ujar Syam Udjo.
Bahkan ia sering diminta mengajar angklung di Jakarta International School
(JIS). "Minat anak-anak belajar musik angklung sangat tinggi."


Menurut Syam Udjo, SAMU berdiri secara tidak resmi tahun 1959-1960. Awalnya,
keluarga Mang Udjo hanya membuat angklung saja. "Sejak kecil, kami diajari
ayah bagaimana mengubah batangan bambu menjadi alat musik tradisional.
Lambat laun kami pun ingin belajar memainkannya. Kan, enggak lucu, bisa
membuat alat musik, tapi tidak mampu memainkannya, " papar Syam Udjo

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akhirnya, sang ayah, Mang Udjo (alm.) pun belajar angklung ke Daeng Sutigna
yang memiliki sekolah angklung di Bandung. Bahkan saat Daeng pergi ke
Australia, Mang Udjo-lah yang mengambil alih pengelolaan angklung di
sekolahnya.
.

Walaupun kini sibuk mengajar seni angklung, keluarga Mang Udjo tetap membuat
alat musiknya, bahkan kini diekspor ke mancanegara. "Bahan-bahannya
didatangkan langsung dari Jampang Kulon, yaitu bambu hitam. Pemilihan bambu
ini hanya pertimbangan estetika saja. Sebenarnya bambu biasa pun bisa, kok."

Yang jelas, pembuatan angklung hanya bisa dilakukan orang-orang dewasa saja.
"Anak-anak hanya diterangkan dari aspek teoritis, berupa tahapan pembuatan
angklung." Sebab, tuturnya, disamping memerlukan ketelitian, pembuatan
angklung cukup rawan jika dikerjakan anak-anak. Pasalnya, pembuatannya
menggunakan pisau sangat tajam. "Jadi cukup berbahaya buat anak-anak."


Bila ingin menikmati pertunjukan
angklung dipungut bayaran Rp 25.000 (turis lokal) dan Rp 35.000 (turis
asing). Pertunjukan ada setiap hari pukul 09.00 dan 16.00 WIB.

Jika ingin belajar, anak-anak akan bergabung dengan pemain-pemain lama yang
sudah mahir. Selain belajar cara membunyikan, anak juga belajar memegang,
membaca dan melihat angka nada angklung.


Untuk anak-anak ini, pengajaran yang dilakukan memang berbeda dengan orang
dewasa. "Dunia anak adalah dunia bermain, maka mereka tidak bisa belajar
serius, tapi harus lewat cara bermain. Konsentrasinya juga terbatas. Belajar
belum terlalu lama, eh, mereka langsung kabur atau mengobrol dengan
teman-temannya. " Karena itu, Syam berusaha menghibur anak-anak dengan cara
membiarkannya bermain beberapa saat. Setelah puas barulah diajari angklung
lagi.
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads