Menurut salah satu versi cerita rakyat yang berkembang di Ponorogo, pada suatu ketika Raja Bantar Angin Sewandana ingin melamar seorang puteri dari kerajaan Kediri, yaitu Dewi Sanggalangit. Akan tetapi dalam perjalanannya, raja dihentikan oleh Singobarong penjaga Hutan Lodaya. Pasukan Singobarong terdiri atas merak dan singa, sedangkan dari pihak Raja Bantar Angin dikawal oleh Patih Bujanganom dan warok.
Pertempuran antara dua pasukan tadi yang dianggap sebagai salah satu sumber rujukan bagi pertunjukan kesenian Reog Ponorogo.Pertunjukan reog biasanya terdiri atas beberapa adegan, yang pertama adalah tarian pembuka. Tarian ini menampilkan 6 sampai 8 laki-laki dengan pakaian serba hitam dan muka yang dipoles warna merah. Mereka menggambarkan sosok singa yang marah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada bagian terakhir merupakan bagian di mana seorang penari yang memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak, segmen ini biasa disebut singobarong. Uniknya, mereka mengenakan topeng yang beratnya bisa mencapai 50 atau 60 kilo gram dan topeng tersebut dimainkan dan dikenakan dengan cara menggigit bagian belakang topeng.
Bagi Anda yang tertarik menonton kesenia reog, Anda dapat mengujungi agenda pertunjukan yang sifatnya tahunan. Kesenian reog biasanya diselenggarakan pada tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus. Kesenian ini hampir merata diselenggarakan di seluruh Kabupaten Ponorogo.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Parah Banget! Turis Thailand Jadi Korban Maling di Bromo, 7 Koper Hilang
11 Bandara Papua Ditutup
Sejarah Tembok Ratapan yang Asli: Tempat Suci Umat Yahudi