Baru-baru ini, The Guardian menerbitkan artikel 'Destroying the world's natural heritage: 'Komodo is reaching a tipping point'. Berisikan, bawah laut Pulau Komodo di Taman Nasional Pulau Komodo, NTT pelan-pelan hancur.
Hal itu diakibatkan oleh penangkapan ilegal dan tidak adanya pariwisata berkelanjutan. Itu menurut pengakuan dari salah satu operator selam, Ed Statham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Screenshot The Guardian |
Dalam rilis dari Kementerian Pariwisata yang diterima detikTravel, Rabu (25/4/2018) pihak Taman Nasional Komodo membantah pemberitaan tersebut. Terutama, tidak adanya ilegal fishing di Pulau Komodo
"Taman Nasional Komodo sudah dideklarasikan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Semua isunya sangat seksi. Hal-hal yang kecil ternyata luar biasa dampaknya bagi dunia luar. Belum lagi jika bicara UNESCO. Padahal hal itu belum tentu kebenarannya," ujar Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Budhy Kurniawan.
Budhy mengaku tidak mengetahui pasti lokasi kerusakan terumbu karang sebagaimana diberitakan The Guardian. Namun, ia menduga lokasi yang dimaksud adalah Crystal Rock. Salah satu destinasi favorit para penyelam. Crystal Rock dikenal memiliki arus yang sangat kuat.
"Kemungkinan jika melihat gambar yang beredar, lokasinya ada di Coral Bay, Crystal Rock. Kerusakannya sangat kecil. Dan itu rusak bukan karena illegal fishing yang dilakukan nelayan dengan cara pemboman. Penyebabnya banyak. Salah satunya gelombang besar, cuaca ekstrem dan juga jangkar. Tetapi jika menyebut 'kerusakan', saya kira itu tidak signifikan, karena rusaknya kecil," kata Budhy.
BACA JUGA: Pulau Komodo: Dipuji Media Australia, Disoroti Media Inggris
Dijelaskan Budhy, kerusakan pernah terjadi 15 tahun yang lalu di titik Papagarang. Hal tersebut terjadi karena saat itu masyarakat belum mengenal konservasi serta pemanfaatan hasil laut. Namun, 10 tahun belakang, hal itu sudah tidak lagi terjadi. Pulau Komodo terjaga dengan baik. Seiring perkembangan pariwisata yang pesat di Pulau Komodo.
Laut Pulau Komodo juga jadi habitat penyu (Desvriany/d'Traveler) |
"Tahun ini akan ada transplantasi karang di Papagarang. Secara ekosistem, kita masih melakukan kajian untuk melakukan transplantasi yang sifatnya time series. Dan kita akan terus monitoring lagi untuk melihat perubahan tersebut. Dan sekarang bisa dilihat perubahannya. Kondisi koral di Taman Nasional Komodo itu 80% baik," ujarnya.
Indikator perubahan juga ditunjukan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo setiap tahunnya. "Indikatornya, jumlah wisatawan meningkat, terlebih tiga tahun ini, dan grafiknya naik terus," katanya.
Saat ini, Balai TNK sedang melakukan pembenahan manajemen kawasan. Instrumen regulasi telah disiapkan untuk membuat daya dukung dan daya tampung atau carrying capacity. Regulasi ini akan diberlakukan di laut dan darat.
"Nantinya perhari, hasil kajian kami yang dibantu WWF di 11 dive spot yang ada di sini nanti ada pembatasan maksimum penyelam. Juga termasuk kapal yang mendatangi objek wisata itu nantinya dibatasi," katanya.
BACA JUGA: Taman Nasional Komodo Mau Batasi Para Penyelam
Budhy juga mencontohkan di lokasi dive spot favorit yaitu Karang Makassar. Di sana para penyelam bisa melihat spesies manta dan biota laut lainya. Namun, jumlah diver akan dibatasi.
"Nantinya pe rhari hanya 54 orang diver di sana dan itu masih kajian. Dan itu semua akan diterapakan diberbagai lokasi tidak hanya di 11 dive spot itu. Ke depan industri pariwisata seperti dive operator, operator hingga penyelam sekalipun atau apapun yang ingin harus berstandarisasi dan bersertifikasi," pungkasnya. (aff/aff)












































Screenshot The Guardian
Laut Pulau Komodo juga jadi habitat penyu (Desvriany/d'Traveler)
Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru