Pemberontak M23 menguasai Taman Nasional Virunga, taman nasional tertua di Kongo yang merupakan habitat gorila. Tentara pemerintah Kongo dipukul mundur dari daerah ini. Lantas, para wisatawan yang ingin melihat gorila, kini didampingi para ranger yang membelot menjadi pasukan milisi.
Sebuah operator tur di Bunagana, kota perbatasan yang dikuasai pemberontak M23 sejak Juli 2012, mengatakan wisatawan asing masih datang ke tempat mereka. Biaya wisatanya USD 350 per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ntawukiruwe, wisata ini dijalankan oleh 4 ranger yang bergabung dengan tentara pemberotak M23. Mereka melakukan gerakan separatis melawan pemerintah Republik Demokratik Kongo.
Masalahnya, M23 itu punya reputasi buruk. Organisasi Human Rights Watch menuding M23 melakukan pembunuhan dan pemerkosaan. PBB menuding Rwanda membantu para pemberontah M23. Yang jelas, pihak Taman Nasional Virunga, mengatakan tur gorila dari M23 tidak terkait dengan pihak mereka. Shoushou Tours dituding mengumpulkan uang untuk pemberontak lewat pariwisata.
M23 tentu membantah. Eugene Rwabuhihi dari bidang konservasi, lingkungan dan pariwisata kelompok pemberontak M23 mengatakan kalau pihaknya memang ingin mengembangkan wisata kunjungan ke habitat gorila.
"Kalau turis datang, mereka bayar untuk lihat gorila dan kita terima sebagian uang untuk biaya keamanan," kata Rwabuhihi.
Untuk tur gorila ke Kongo, turis membayar total USD 360 untuk izin, transportasi dan pemandu wisata. Ongkos ini lebih murah dari pada tur gorila di Uganda dan Rwanda yang biayanya USD 500 dan USD 750, hanya untuk izin masuk saja.
Wisatawan terbang ke Ibukota Uganda di Kampala, lantas naik kendaraan ke perbatasan Kongo untuk menyeberang masuk ke Bunagana. Mereka menginap di hotel yang dikuasai pemberontak. Hotel itu juga sering dipakai rapat pemberontak. Oh ya, karena perbatasan dikuasai pemberontak, tidak butuh visa untuk masuk ke Kongo.
Lantas, bagaimana dengan sikap wisatawan? Abdel, turis Prancis yang sudah membooking tour dengan Shoushou mengatakan kondisi tanpa visa ini malah lebih praktis untuk wisatawan. Abdel tidak ambil pusing kalau pemberontak mengambil keuntungan komersil dari tur gorila.
"Saya ingin lihat gorila tanpa banyak wisatawan lain. Situasi di sini kan rumit, nggak gampang bilang pemberontak jahat, pemerintah baik. Bapak saya perang di Aljazair lawan Prancis, dia disebut teroris, padahal pejuang kemerdekaan," kata Abdel.
(/)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica