"Sekarang lagi hapening Raja Ampat, tapi setelah itu Flores dan Pulau Komodolah yang akan menjadi tujuan utama," kata Kasubdit Komunikasi Media Elektronik dan Digital, Direktorat Pencitraan Indonesia, Kemenparekraf, Ratna Suranti dalam acara peluncuran buku 'Flores-Komodo, Permata Nusantara & Pesona Keajaiban Alam' di Papa Rons Pizza, Lobby Tower Apartemen Royal Park, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (31/1/2013).
Flores terletak di NTT. Dari Jakarta, Anda bisa naik pesawat menuju Labuan Bajo dengan transit di Bali. Keindahan bawah laut Flores pun tidak kalah dengan Raja Ampat. Lautan di sana masih bersih dan belum terjamah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratna juga menambahkan, Flores punya terumbu karang dan berbagai ikan seperti pari yang jumlahnya ratusan. "Bagi diver, sekali menyelam ke sana pasti ingin menyelam lagi," tambahnya.
Selain bawah laut, rupanya Flores juga punya banyak destinasi menarik lainnya. Ada pantai, kuliner, budaya, masyarakat setempat dan komodo yang jadi naga purba satu-satunya yang tersisa di dunia.
"Pulau Komodo ada dua objek, Pantai Pink dan Riung, yaitu taman laut. Riung itu punya karang-karang yang indah dan ada 17 pulau bagus di sana. Ada juga kampung-kampung tradisional di Bena yang punya situs megalitikum," kata pengarang buku 'Flores-Komodo, Permata Nusantara & Pesona Keajaiban Alam', Valerianus Reku kepada detikTravel.
Valerianus yang adalah putra asli Flores menambahkan, Pulau Komodo dan Flores layak disebut sebagai 'New Carribean'. Ia mengaku alam di Flores dan Pulau Komodo masih asri, bersih, dan sangat menakjubkan.
"Pulau Komodo dan Flores itu New Carribean. Lautnya indah, pantainya indah, dan udaranya 100 persen segar karena tidak ada pabrik dan manufaktur," tambah Valerianus.
"Banyak orang asing yang saya temui di Flores. Mereka bilang sudah 3-4 kali ke sana dan sudah jatuh cinta," tambah Ratna.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?
Bayangkan Hidup Tanpa Matahari: Kisah Desa dengan Hujan 'Abadi'