Dilansir dari The Sydney Morning Herald, Kamis (21/2/2013), Elena Volkova bersama kedua anaknya Andrey dan Dmitry Zhavoronkov yang masing-masing berumur 2 dan 5 tahun, akan traveling dari Auckland ke Christchurch. Mereka dijadwalkan terbang dengan pesawat Air New Zealand NZ 527 pada Sabtu (9/2) lalu. Bukannya terbang, mereka sekeluarga justru diusir dari pesawat dan harus turun. Kok bisa?
"Saya tidak pernah dengar kalau ada penumpang yang diusir dari pesawat gara-gara hal seperti ini," curhat Volkova.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak saya yang paling kecil sangat kelelahan. Dia terus menangis, tapi berusaha untuk menangkan diri," lanjut Volkova.
Volkova menambahkan, pramugari sudah memberikan biskuit tapi Andrey terus menangis. "Setelah cara itu gagal, pramugari kembali lagi dan mengatakan pilot tidak bisa lepas landas dengan penumpang yang tidak bisa tenang. Kami disuruh turun dan terbang dengan penerbangan selanjutnya," ungkapnya.
Namun, juru bicara Air New Zealand, Marie Hosking, mengatakan masalah tersebut bukan pada sang anak yang terus menangis. Masalahnya, anak tersebut tidak dapat terkendali di bangku pesawatnya dan tidak mau mengenakan sabuk pengaman.
"Ini merupakan persyaratan penerbangan sipil, semua penumpang harus menggunakan sabuk pengaman selama lepas landas dan mendarat," kata Hosking.
Lanjut Hosking, anak tersebut tidak bisa duduk dengan tenang. Meskipun sudah dilakukan upaya terbaik, sang anak tidak bisa duduk dengan sabuk pengaman. Oleh sebab itu, keberangkatan penerbangan berisiko tertunda dan akan merepotkan penumpang lainnya.
"Pilot yang bertanggung jawab tidak punya pilihan selain membuat panggilan bagi keluarga tersebut untuk turun dan akan terbang dengan pesawat berikutnya setelah sang anak mulai tenang," tegas Hosking.
Tapi apa yang dirasakan Volkova? Dirinya merasa dipermalukan. "Semua orang menatap saya seolah saya ini penjahat kriminal," keluhnya.
Akhirnya, putra bungsunya tidak dapat terbang dan suami Volkova menjemput sang anak di bandara. Volkova dan anak tertuanya dapat terbang kembali ke Christchurch saat hari itu juga.
"Saya fokus untuk menenangkan anak saya ketimbang menyuruhnya duduk dan memakaikan sabuk pengaman. Saya rasa para kru pesawat tidak memiliki profesionalisme dalam menangani anak-anak dan orangtua dalam situasi seperti ini," ucap Volkova.
(shf/shf)










































