Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 19 Apr 2013 19:41 WIB

TRAVEL NEWS

Keren! Gedung Merdeka Bandung Gelar Pameran Kain Gendong

detikTravel
Gedung Merdeka (arini tathagati/dTraveler)
Bandung - Menyambut Hari Kartini, Gedung Merdeka Bandung menggelar Pameran Kain Gendong mulai hari ini, Jumat (19/4) hingga Rabu (24/4). Wisatawan bisa melihat beragam kain gendongan dari batik, tenun, sulam, tali hingga kayu. Keren!

"Ada 60 motif kain gendong Nusantara dan 40 kain dari negara lainnya," ujar Ika Bien Soebiantono Wahyudi, Dewan Pengurus Yayasan Batik Indonesia yang menjadi Ketua Pameran Kain Gendongan saat berbincang dengan wartawan di Gedung Merdeka, Jl Asia Afrika, Bandung, Jumat (19/4/2013).

Ika menambahkan, kain gendong asal Indonesia berasal dari Pekalongan, Lasem, Cirebon, Sumedang, Badui, Indramayu, NTT, Bali, Sengkang, Sulawesi dan daerah lainnya. Sementara dari negara lain, ada dari Suku Miao China, Thailand dan Kenya.

"Pameran dengan tema Kain Gendong ini pas dengan Hari Kartini. Kami ingin menunjukkan bahwa Kartini Indonesia bukan hanya menjadi wanita yang sukses, namun dunia itu dimulai sejak dari ibu mengandung," katanya.

Ika menuturkan, filosofi menggendong anak dengan kain saat ini mulai tergantikan dengan berbagai perlengkapan yang praktis dan modern. "Sekaligus mengingatkan para ibu untuk menggendong anaknya agar ada ikatan, dan kedekatan," tutur Ika.

Pada pameran tersebut, diperlihatkan cara menggendong anak. Ada yang disimpan di depan, ada juga yang di belakang. Menurut Ika, perbedaan cara dan letak menggendong tersebut lebih banyak dipengaruhi dari adat istiadat serta kebiasaan di daerah setempat.

Cara menggendong anak di depan, biasanya banyak ditemui di wilayah Jawa. Sementara di Kalimantan, bayi digendong di belakang dengan menggunakan kayu yang telah dibentuk seperti tas ransel.

"Kalau di Papua, bayi disimpan di dalam Noken yang lalu talinya ditahan di kepala. Kalau di Sulawesi, tidak ada kegiatan menggendong anak, karena anak disimpan dalam kain tarekat (sarung) yang disambungkan sehingga bayi diper (diayun). Perbedaan seperti itu lebih karena adat kebiasaannya," tuturnya.

Ada banyak koleksi kain yang menarik di pameran ini, termasuk koleksi milik Prof Mazakatsu Tozu Kousekan dari Universitas di Tokyo. Bagi Anda traveler wanita, kunjungi Pameran Kain gendong ini yuk!

(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA