"Ilmu pariwisata memiliki progress luar biasa, kombinasi dari beragam ilmu seperti komunikasi, ekonomi, arsitektur, dan lain-lain menjadi sebuah ilmu murni pariwisata tahun 2008," tutur Menparekraf Mari Elka Pangestu saat acara pengukuhan anggota ICMI di Balairung Soesilo Soedarman, Kemenparekraf, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (4/6/2013).
Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) dibentuk sebagai langkah pengembangan ilmu pariwisata sebagai ilmu murni di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya suka kata Cendekiawan dipakai di nama badan ini. Hal itu membuktikan kalau pelaku pariwisata bukan cuma berasal dari pendidikan formal. Empu misalnya, tidak belajar keris secara formal tapi dialah yang paling tahu seluk-beluk keris," tutur Mari.
Berkembangnya ilmu pariwisata terlihat jelas di Indonesia. Pengajuan pembukaan Perguruan Tinggi Pariwisata baru, angkanya bertambah sekitar 12% dibanding tahun 2010.
"Ilmu pariwisata sekarang dipelajari bukan cuma di D3 tapi S1, bahkan sampai S2," tutur Ketua Umum ICPI, Prof Azril Azahari, PhD dalam kesempatan yang sama.
Mari menekankan pentingnya ilmu pariwisata bagi sebuah negara. Oleh karena itu, tambah Mari, ilmu pariwisata bisa diaplikasikan bagi anak-anak muda Indonesia.
(ptr/fay)










































