Dari Sabang sampai Merauke, ada puluhan ribu pulau dengan banyak destinasi alam, budaya dan sejarah. Dari sekian banyak itu, timbul masalah klasik soal ikon wisata yang bisa mewakilkan Indonesia.
"Kita punya banyak ikon. Mungkin karena saking banyaknya, dari dulu branding indonesia tidak terlalu berhasil," ujar Menparekraf, Mari Elka Pangestu pada acara peresmian Hari Marketing Nasional di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (1/4/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Candi Borobudur, di tempat lain juga banyak candi dan bangunan heritage. Kalau Sabang jadi ikon perairan, Raja Ampat juga punya. Kita tidak bisa disamakan dengan negara lain," papar Esthy.
Esthy melanjutkan, salah satu kelebihan yang jadi ikon dan ciri khas Indonesia sebenarnya ada pada masyarakatnya. Orang-orang Indonesia sudah dikenal ramah, bersahabat dan terbuka dengan turis.
"Kita lebih menonjolkan pada masyarakat. Seperti apa kata Ibu Mari, orang-orang Indonesia itu otentik dan punya kearifan lokal untuk menjaga lingkungan yang jadi daya tarik," kata Esthy.
Soal kearifan lokal, hampir di tiap-tiap destinasi terdapat suku yang masih menjaga nilai luhur dan berdampak baik dengan lingkungan. Contohnya seperti suku Badui di Banten, suku Dayak di Kalimantan hingga suku Dani di Wamena, Papua.
"Setiap negara punya pantai dan punya pantai, tapi yang membedakan adalah orang-orang kita (Indonesia) yang terkenal ramah," kata Mari.
Untuk itu, kini Kemenparekraf mencoba terobosan baru soal brosur-brosur wisata. Di manapun destinasinya baik di pantai atau bangunan-bangunan bersejarah, selalu ada potret orang Indonesia.
"Kalau ada foto pantai, kita masukan orang-orang yang sedang memancing atau beraktifitas di sana. Itu juga jadi bukti bahwa warisan budaya dan alam masih terus eksis karena ada orang-orang di sekitarnya," ungkap Mari.
(shf/shf)










































