Hal tersebut disampaikan oleh Wamenparekraf, Sapta Nirwandar dalam kunjungan ke Desa Bawamataluo. Bersama rombongan wartawan dan bupati-bupati dari Nias, Sapta disuguhkan atraksi tradisi lompat batu.
Ada sembilan pria pelompat batu yang menggenakan baju hitam, umurnya rata-rata 20 tahun-an. Mereka beraksi bergantian dan menyita perhatian para rombongan dan masyarakat setempat. Sapta pun dibuat terkesima.
"Saya begitu tersentuh dengan kebudayaan di desa ini. Saya bahagia bisa menyaksikannya, pelompat batunya fantastis," ujar Sapta menggambarkan kekagumannya pada Desa Bawamataluo, Rabu (18/6/2014).
Sapta tak hanya memuji, tapi juga menegaskan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Desa Bawamataluo. Selain sebagai nilai sejarah, tentu saja itu menjadi daya tarik wisatawan.
"Pemerintah dan semua masyarakat harus bersama-sama menjaga warisan budaya Nias yang seperti ini. Lalu juga terus dijaga oleh generasi penerusnya," papar Sapta.
Sapta bersama rombongan juga melihat atraksi tari perang dan berkunjung ke rumah adat yang umunya mencapai 200 tahun. Bisa dibilang, belum ke Nias kalau belum melihat atraksi lompat batu.
"Budaya ini sangat adiluhung di Nias," pungkas Sapta.
(sst/sst)











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Terpopuler: Pendaki Bawa Sapi ke Gunung Rinjani untuk Disembelih,Berujung Dikecam