berkunjung. Namun datanglah di saat yang tepat, atau Anda akan merasakan pengalaman mendebarkan terkena angin dan ombak kencang.
Waktu paling ideal untuk datang ke Raja Ampat adalah bulan September sampai Mei. Hindari datang selama bulan Juni-Agustus.
"Selama bulan itu terjadi angin kencang, ketinggian ombak di sini bisa mencapai 4 meter," kata Rudi seorang pengemudi speedboat di Raja Ampat kepada detikTravel, Sabtu (23/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 1 kilometer perjalan dari pelabuhan, laju speedboat masih nyaman. Namun setelahnya, kami dan rombongan Menko Kesra seperti menjalani uji nyali. Ombak yang datang dari sisi kiri speedboat begitu tinggi. Speedboat terombang-ambing, dan tak jarang 'berakrobat', melayang di udara kemudian jatuh membentur ombak.
Pada saat seperti itu, benturan antara Speed Boat dengan ombak akan begitu terasa oleh penumpang yang duduk di bagian depan. "Yang tak biasa perutnya biasa sakit," kata Rudi.
Benar saja, satu penumpang yang tak tahan guncangan di speedboat merasa mual dan akhirnya muntah. Namun, meski ada penumpang yang mabuk, motoris tak mengurangi kecepatan. Padahal ombak begitu tinggi dan arus pun sangat kencang.
Menurut Rudi, memang perjalanan dari Waisai ke bukit Pianemo melintasi salah satu teluk dengan ombak yang tinggi dan arus kencang. "Di titik itu motoris justru harus mempercepat laju speedboat, karena kalau melambatkan justru akan berbahaya. Jika mesin mati 'habis'," papar Rudi.
Setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam rombongan Menko Kesra Agung Laksono berhasil melabuh di dermaga Bukit Pianemo. Tiga perempuan peserta rombongan tak bisa melanjutkan perjalanan ke puncak bukit karena mabuk laut.
Agung Laksono memiliki cerita tersendiri saat menempuh perjalanan dari Waisai ke Pianemo itu. "Ombak memang begitu tinggi, bahkan air sudah di atas kapal. Semua (penumpang) tegang, bahkan ada yang mendadak sok bijak, diam saja.. Hahaha," kata Agung.
Meski mengalami peristiwa yang menegangkan, Agung mengaku tak kapok melawan ombak. "Ombak harus dilawan, tapi jangan sampai hanyut," kata Wakil Ketua Umum Partai Golongan Karya itu.
Tingginya ombak dan derasnya arus juga dirasakan saat sebagian rombongan melanjutkan perjalanan dari Waisai ke Doberai Resort di Pulau Urai. Jarum jam sudah menunjukkan angka 17.00 WIT saat rombongan akan berangkat.
Rudi sang motoris sudah mengingatkan agar perjalanan diurungkan, karena ombak diperkirakan tinggi. "Maksimal perjalan laut dengan Speed Boat itu jam 5 sore," kata dia.
Benar saja, ombak begitu tinggi, arus sangat deras, dan gelap karena ada kearifan lokal yang mengatur tata cara menyalakan lampu di laut. Sehingga lampu senter hanya bisa dinyalakan sesekali saja.
Terjangan ombak ke speedboat membuat seluruh penumpang harus 'mandi' air laut. "Hanya doa dan dzikir yang bisa kami lakukan saat itu," kata salah satu penumpang seperti ditirukan Rudi.
Beruntung rombongan bisa selamat sampai Deborai Resort. Namun pengalaman mendebarkan saat menjelajahi perairan di Raja Ampat tak bisa dilupakan.
(sst/sst)










































