Ada yang mengusik di dua destinasi eskotis di Indonesia. Ada rencana mal yang akan berdiri di Labuan Bajo, Flores, dan ada batik di Raja Ampat. Duh!
"Labuan Bajo jangan mencontoh Jakarta untuk membangun Mal. Raja Ampat itu jangan buat batik tapi pahatan dan anyaman sebagai kerajinan tradisional yang harus dikembangkan," ujar Menparekraf, Mari Elka.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Konferensi Nasional Destination Managemen Organization (DMO) di Swiss Bell Hotel, Ruang Lavender III, Jl Kartini Raya no 57, Jakarta, Rabu (15/10/2014). Mari menekankan, tiap destinasi wisata di Indonesia punya ciri khas masing-masing yang jadi keunikan dan daya tarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Destinasi wisata yang penuh dengan budaya tradisional sebenarnya masih bisa menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara. Tidak dengan cara membangun fasilitas besar-besaran, namun dengan cara mengemasnya.
"Baik tempat wisata dan budaya bisa dikemas dengan 'kekinian'. Contohnya Wae Rebo di Flores, suasana dan rumah serta adat masyarakat di sana masih asli tapi modern living," ungkap Mari.
Di Tanjung Puting, Mari memberikan contoh lain, di sana dulu banyak kapal-kapal yang mengangkut pohon-pohon dari hutan secara illegal. Dengan pariwisata, maka kapal-kapalnya kini mengangkut wisatawan untuk menjelajahi sungai.
Untuk itu peran stakeholder, Pemda, LSM, universitas dan industri wisata sangat penting untuk memajukan suatu destinasi wisata di tiap daerah di Indonesia. Kemenparekraf pun turun tangan, untuk memberikan pemahaman mengenai pariwisata bagi masyarakat.
"Coba kalau ada mal di Labuan Bajo, pasti bingung toh?" celetuk Mari.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru