"Wisata syariah di Indonesia baru mulai diperkenalkan pada 2012. Dari semua daerah ada 13 destinasi yang paling ramah Muslim," tutur Rizki Handayani, Direktur Promosi MICE dan Minat Khusus Kemenparekraf saat jumpa pers World Islamic Tourism Mart (WITM) di Lantai 17 Gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (22/10/2014).
Seluruh destinasi tersebut, lanjut Rizki, dilihat dari banyak hal. Selain tentunya destinasi wisata religi, faktor lain yang mempengaruhi adalah fasilitas dan makanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
13 Destinasi tersebut adalah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Bali.
"Ya, Bali masuk dalam destinasi ramah Muslim karena tak sulit mencari makanan halal juga masjid. Namun ada satu masalah," papar Rizki.
Masalah tersebut adalah soal sertifikasi halal di tiap restoran. Rizki menuturkan, orang Indonesia sudah terbiasa masuk restoran dengan asumsi makanan yang disajikan adalah halal. Namun, lain halnya dengan wisatawan asing.
"Mereka (wisatawan asing beragama Islam) biasanya mencari restoran dengan label atau sertifikasi halal. Di Malaysia semua restoran sudah punya itu," terangnya.
Meski begitu, hampir tiap provinsi punya paket tur wisata syariah. "NTB misalnya, punya paket tur dengan menginap di pondok pesantren," tutupnya.
(sst/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh