"Saat musim hujan, (maskapai-red) harus memantau kondisi atmosfer dan awan," kata Halim Murahman dari bagian Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung kepada detikTravel, Selasa (30/12/2014).
Halim lebih dulu menjelaskan bahaya yang dialami pesawat saat musim hujan. Bahaya yang mengintainya, yakni awan cumulonimbus yang tingginya belasan meter dan diameternya mencapai puluhan meter. Pesawat harus menghindari awan tersebut, karena di dalamnya terdapat tekanan udara yang rendah, angin kencang, petir dan bisa terjadi angin puting beliung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu saat musim kemarau, bahaya yang mengintai penerbangan pesawat ada dua. Keduanya adalah asap dari kebakaran hutan dan debu vulkanik dari gunung.
"Dua-duanya membuat visibility atau daya pandang pilot menjadi terganggu. Contoh debu vulkanik seperti Gunung Gamalama di Ternate beberapa waktu lalu, penerbangan ke sana dibatalkan bukan?" ujar pria yang sudah bekerja di LAPAN Bandung sejak tahun 1990-an tersebut.
Baik musim hujan atau kemarau, menurut Halim, memang ada bahaya-bahaya yang mengintai pesawat. Namun, hal tersebut tak perlu terlalu dicemaskan. Sebabnya, pihak maskapai penerbangan sudah mempunyai standar kemanan yang tinggi dan teknologi canggih untuk meramal kondisi cuaca.
Ada pula LAPAN dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang update memberikan informasi cuaca. Setidaknya, sudah meminimalisir risiko-risiko yang akan dihadapi pesawat selama penerbangan.
"Penerbangan itu hitungannya detik, jadi monitoring kondisi dan cuaca itu mutlak. Satelit dan radar harus terus diperbarui, meski dananya lebih besar," papar Halim.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh