Andrea Hirata Bicara Soal Pariwisata Belitung
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Andrea Hirata Bicara Soal Pariwisata Belitung

- detikTravel
Minggu, 15 Mar 2015 11:35 WIB
Andrea Hirata Bicara Soal Pariwisata Belitung
Andrea Hirata di Museum Kata, Belitung (Rini/detikTravel)
Belitung - Pulau Belitung saat ini populer karena keindahan alam dan pantainya. Namun sebenarnya, potensi Belitung lebih dari itu. Novelis dan budayawan asal Belitung, Andrea Hirata berpendapat wisata juga harus mencerdaskan.

β€ŽNovelis dan budayawan asal Belitung, Andrea Hirata memberikan pandangannya terhadap potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Belitung. Sejak Laskar Pelangi populer dan menaikkan pamor kota tambang tersebut, infrastruktur pariwisata masih terfokus pada landscape tourism untuk kawasan pantai yang berada di Belitung Barat.

Padahal apabila diteliti lagi, desa Gantong yang menjadi setting film Laskar Pelangi berada di kawasan Belitung Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anda bisa melihat yang mendapatkan banyak keuntungan dari film Laskar Pelangi itu adalah Belitung Barat, bukan Belitung Timur. Padahal desainnya dari kampung ini, karena memang pantai di Belitung barat memiliki pantai-pantai yang indah, di Belitung Timur itu sebetulnya punya konteks yang kuat dengan Laskar Pelangi ini. Sehingga bisa memang saling point kan," ujar Andrea kepada wartawan di Museum Kata miliknya yang berada di Desa Gantong, Belitung Timur, Sabtu (14/3/2015) sore.

Andrea sempat memaparkan idenya mengenai intelligence tourism, di mana pariwisata tidak semata-mata dipandang dari potensi alamnya saja, tapi beberapa faktor yang lainnya. Dia sempat mencontohkan dengan Platform 9 3/4 di stasiun kereta api London yang diambil dari film Harry Potter. Ikonik, tanpa harus mengumbar potensi alam yang berlebih.

"Saya sudah katakan, this is not just about tourism, not about visiting, ini tentang bagaimana ini menjadi sebuah bentuk yang cerdas. Uang melambangkan kita sebagai bangsa yang berbudaya, yang bersastra. Tidak lantas negara yang maju punya literary museum, dan ternyata literary museum ada di sebuah desa kecil, kan sebuah hal yang unik," jelasnya.

"Dan literary ini mencerminkan kita orang yang dekat dengan baca, pendidikan, dengan karya sastra, art. Jadi ada value tersendiri yang tidak bisa didapat dari landscape tourism. Kalau anda masuk ke dalam dan membaca di depan itu, anda bisa tahu benang merah dari kuratorial ini," sambung Andrea sambil menunjuk ke arah museumnya.

Andrea mengaku, dari royalti novel dan film, dirinya bersama relawan membangun Museum Kata sejak 2010 tanpa campur tangan pemerintah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk promosi kawasan Belitung Timur sebagai ikon intelligence tourism.

"Saya tidak punya kendala klasik dengan dana, tapi sudah komitmen awal saya kepada publik bahwa saya akan mendedikasikan royalti itu kepada masyarakat, makanya di sini saya tidak jual tiket kan? Kalau saya jual tiket saya bisa kaya raya itu. 250 ribu pengunjung per tahun, mungkin lebih dari itu," kata dia.

"Sejak buku ini terbit di banyak negara, this concept (intelligence tourism) can works, trust me, saya sudah membuktikan 5 tahun. Jadi maksud saya adalah yang saya perlukan, yang saya tidak perlukan bantuan dana, dari royalti ini alhamdulillah. Dan membuat literary museum tidak membutuhkan dana bermiliar, tidak mahal, yang susah mikirinnya, the concept," sambung Andrea.

Hal penting yang diperlukan dalam menonjolkan potensi pariwisata sebuah wilayah, menurut Andrea tak terlepas dari campur tangan promosi. Publik tak akan mengetahui keindahan dan pentingnya Museum Kata yang berada di Belitung Timur tanpa adanya publikasi.

"Yang kita perlukan adalah promosinya, publikasinya, itu yang kita nggak punya resources-nya, specialist-nya. Museum ini tidak punya pilar, mengenalkan museum ini kepada publik dengan promosi, itu yang paling penting untuk menonjolkan Belitung Timur," tukasnya.

(sst/sst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads