Media Australia Serukan Wisatawan Boikot Indonesia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Media Australia Serukan Wisatawan Boikot Indonesia

- detikTravel
Rabu, 29 Apr 2015 16:10 WIB
Media Australia Serukan Wisatawan Boikot Indonesia
Pura Tanah Lot di Bali (Darwance Law/d'Traveler)
Jakarta - Hashtag #BoycottIndonesia ramai di social media Australia pasca eksekusi 2 terpidana mati Bali Nine. Media Australia pun meramaikan isu ini kepada para traveler mengenai ajakan memboikot pariwisata Indonesia.

News.com misalnya seperti dilihat detikTravel, Rabu (29/4/2015), memuat kisah mengenai kenapa warga Australia tidak akan berkunjung ke Indonesia setelah eksekusi dilakukan. Di situ tertulis bahwa dieksekusinya Andrew Chan dan Myuran Sukumaran menimbulkan kekagetan, kesedihan serta kemarahan.

Sebagai pengedar narkoba, kedua warga Australia itu memang secara tidak langsung membunuh para pelanggannya yang kecanduan narkoba. Namun, hal tersebut dianggap tidak setimpal dengan hukuman mati yang dijatuhkan pada Chan dan Sukumaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seharusnya para pengedar ini rehabilitasi, agar mereka dapat tersadar dan menjadi orang yang lebih baik. Mereka tidak layak dihukum mati, hukuman mati itu tak seharusnya diberikan kepada siapa pun. Dan tentu saja hal ini tidak sebanding dengan tiket murah untuk ke Bali.

Senada dengan News.com, MSN Australia juga menulis mengenai warga Australia yang marah dan membatalkan niatnya untuk berlibur ke Bali. Malcolm Sheridan misalnya, ia adalah seorang pria dari Melbourne yang berencana ke Bali bulan Juni tahun ini.

Namun setelah eksekusi, ia batal ke Bali dan lebih memilih liburan di Australia. Sheridan berpendapat bahwa itulah hal kecil yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan penolakannya terhadap hukuman mati. Menurutnya, Presiden Indonesia tidak akan mendengarkan pendapatnya tanpa ada tindakan nyata.

Selain Sheridan, ribuan warga Australia juga memprovokasi aksi boikot Bali di media sosial. Beberapa mengatakan bahwa eksekusi itu tindakan tidak berperikemanusiaan. Sedangkan sebagian besar lainnya bersumpah tidak akan traveling ke Indonesia.

Herald Sun juga memberitakan kisah Paul Conibeer, teman dekat Chan dan Sukumaran selama di Penjara Kerobokan. Pria ini juga ikut menggembar-gemborkan aksi boikot Bali di media sosial. Ia beranggapan bahwa menarik duta besar Australia dari Indonesia itu tidak ada gunanya.

Australia pun harus menunjukkan kemarahannya dengan tidakan lain, yaitu menolak berkunjung ke Indonesia. Menurutnya, Indonesia itu butuh uang. Kalau tidak banyak turis Australia yang datang ke Indonesia, pemasukan negara akan berkurang.

"Losing tourism will hit them hard and I would encourage all Australians not to go to Bali," ujar Sheridan.

Berbeda dengan News.com, MSN Australia dan Herald Sun, media Sydney Morning Herald menerbitkan artikel yang menyiratkan bahwa media ini menampik boikot Bali. Media ini mengungkapkan bahwa walaupun ada aksi boikot Bali, masih banyak juga wisatawan Australia yang pergi ke Pulau Dewata.

Mereka memberitakan pihak maskapai Qantas dan Webjet menyebutkan bahwa belum terlihat penurunan jumlah penumpang yang terbang dari Australia ke Bali ataupun destinasi wisata lainnya di Indonesia. Turis Australia yang ingin Bali malah meningkat!

Webjet juga menyampaikan kalau warga Australia yang membeli tiket pesawat ke Bali meningkat 42% selama 4 minggu terakhir, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu. Maskapai Qantas, Jetsar, Virgin Australia, AirAsia hingga Garuda Indonesia pun bersaing ketat membawa traveler dari Australia ke Bali.

Penerbangan dari Perth ke Bali bahkan termasuk 10 besar rute tersibuk dari Australia. Hal ini pun menunjukkan bahwa memang banyak yang ikut aksi boikot Bali, tetapi banyak juga warga yang menentang dan tetap liburan di Bali.

(krn/fay)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads