Myanmar Akan Buka 800 Pulau Perawan Untuk Wisatawan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Myanmar Akan Buka 800 Pulau Perawan Untuk Wisatawan

Johanes Randy - detikTravel
Rabu, 27 Mei 2015 12:30 WIB
Myanmar Akan Buka 800 Pulau Perawan Untuk Wisatawan
Kepulauan Mergui di Myanmar (mergui.org)
Kawthaung - Kepulauan Mergui di Myanmar sejatinya terdiri dari 800-an pulau indah yang masih perawan. Namun berkembang wacana, Pemerintah Myanmar akan membuka Kepulauan Mergui untuk para investor dan turis pada akhir tahun ini.

Rencana dibukanya Kepulauan Mergui pun sampai diberitakan oleh media Inggris Telegraph, News Australia, hingga Deutsche Presse-Agentur. Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Rabu (27/5/2015) media Deutsche Presse-Agentur menuliskan kalau Kepualuan Mergui tengah dipublikasikan kembali dan akan ditata oleh para investor.

Keindahan Kepulauan Mergui memang diibaratkan sebuah batu berlian yang belum diasah. Dengan adanya 800 pulau perawan yang tersebar di Kepulauan Mergui, menarik minat Pemerintah Myanmar untuk membangun dan membukanya sebagai salah satu destinasi wisata populer Myanmar.

"Kepulauan Mergui memiliki banyak potensi untuk menjadi destinasi wisata baru, sebagian besar pulau masih belum tersentuh dan memiliki terumbu karang. Kami harap itu semua dapat menarik turis pecinta lingkungan dan para penyelam," ujar Wakil Menteri Hotel dan Pariwisata Myanmar, Sai Kyaw Ohn, seperti diberitakan News Australia.

Rencana pembangunan di Kepulauan Mergui didukung oleh 27 perusahaan lokal, di mana masih menunggu izin dari Komisi Investasi Myanmar atau MIC. Jika semua berjalan lancar, pembangunan akan mulai dilakukan pada Desember 2015.

Selain akan dibangun resor dan hotel, Kepulauan Mergui pun akan dijadikan tempat singgah bagi sejumlah kapal yacht mewah di masa depan. Namun walaupun masih perawan, Kepulauan Mergui merupakan tempat tinggal dari manusia kapal yang dikenal dengan sebutan Salon di Myanmar, seperti diberitakan Telegraph.

Adapun rencana pembangunan di Kepulauan Mergui juga mendapat tentangan dari lembaga pecinta lingkungan seperti Ecodev. Sekiranya pembangunan memiliki potensi merusak alam dan pola hidup, apabila para pengembang tidak memikirkan aspek lingkungan.

(Johanes Randy/Fitraya Ramadhanny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads