Mungkin traveler pernah melihat postingan foto tentang banyaknya sampah di gunung Indonesia, seperti di Rinjani dan Semeru. Sangat disayangkan, namun nyatanya tidak sedikit traveler yang masih suka buang sampah di gunung.
Seiring dengan perkembangan media sosial dan banyaknya film yang menceritakan kisah pendakian, semakin banyak pula traveler yang naik gunung. Sayangnya, tren pendakian gunung malah membuat gunung makin tercemar oleh sampah yang dibawa naik pendaki.
Ini sungguh perbuatan yang tidak memahami esensi kegiatan pecinta alam. Membuang sampah di gunung malah bisa dibilang kampungan!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, permasalahan sampah juga terjadi di banyak gunung populer di Indonesia selain Rinjani. Sebut saja Gunung Semeru, Gede, dan banyak lainnya yang menjadi korban dari para pendaki yang tidak bertanggung jawab.
Melihat permasalahan tersebut, detikTravel Senin (22/6/2015) berjumpa dengan anak muda peduli sampah gunung yang menamakan dirinya dengan Trashbag Community. Komunitas yang terdiri dari anak muda peduli tersebut seakan menjadi garda terdepan pemberantasan sampah di gunung.
"Gunung Bukan Tempat Sampah," beikut slogan utama dari Trashbag Community. Slogan itu pun dibarengi dengan aksi pungut sampah hingga melakukan edukasi dan pengawasan, terkait kondisi teraktual di lapangan. Hebatnya, mereka melakukan itu semua karena dasar kepedulian yang berasal dari hati.
Dengan jumlah anggota yang tersebar seantero Indonesia, Trashbag Community selalu melakukan aksi bersih gunung dalam setiap pendakian. Aksi tersebut pun dilakukan tidak hanya saat ada event saja, namun setiap saat.
Masalahnya, sampah yang ditinggalkan pendaki di gunung memiliki dampak yang buruk untuk alam. Selain mengotori gunung, sampah juga mengakibatkan perubahan perilaku fauna di lingkungan yang membahayakan.
Komunitas Trashbag Community pun juga mengingatkan balai kehutanan, pemerintah, dan semua orang akan kondisi sampah di gunung Indonesia. Meskipun terdapat keterbatasan, memang sejatinya urusan sampah di gunung merupakan masalah yang harus diselesaikan semua pihak termasuk kita.
Naik gunung boleh saja, tapi sebaiknya turut disertai dengan wawasan dan kesadaran untuk peduli lingkungan. Bagaimana traveler bisa mencintai alam jika tidak paham akan alam, bahkan malah merusaknya dengan membuang sampah sembarangan?
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun