Maskapai Alaska Airlines Uji Coba Check-in dengan Sidik Jari

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Maskapai Alaska Airlines Uji Coba Check-in dengan Sidik Jari

Johanes Randy - detikTravel
Rabu, 29 Jul 2015 12:10 WIB
Maskapai Alaska Airlines Uji Coba Check-in dengan Sidik Jari
Mesin pemindai sidik jari (Alaska Airlines)
San Jose - Perkembangan teknologi makin memudahkan traveler, tidak terkecuali saat check-in pesawat di bandara. Maskapai Alaska Airlines telah melakukan uji coba check-in pada penumpangnya dengan menggunakan sidik jari. Seperti apa?

Futuristik, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan metode check-in Alaska Airlines yang menggunakan sidik jari. Dilansir detikTravel dari blog resmi maskapai Alaska Airlines, Rabu (29/7/2015) metode check-in terbaru itu pun diuji coba langsung di Bandara Internasional Mineta San Jose, AS.

Dengan menggandeng perusahaan keamanan bandara asal New York yang bernama CLEAR, maskapai Alaska Airlines mulai membuat sistem check-in menggunakan sidik jari yang dapat memudahkan penumpang pesawat. Intinya penumpang dapat check-in tanpa membawa tiket boarding pass, cukup dengan menempelkan jari saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudahan itu bisa didapatkan penumpang maskapai Alaska Airlines setelah terlebih dulu menjadi member penumpang dengan membayar USD 179 per tahun atau sekitar Rp 2,4 juta. Harga yang mungkin sesuai untuk efektivitas di bandara.

Sebelumnya, pihak Alaska Airlines sudah lebih dulu menerapkan penggunaan sidik jari bagi penumpang yang ingin masuk ke sejumlah loungenya di AS. Mayoritas penumpang yang telah mencoba metode check-in baru tersebut mengaku senang dan puas.

Penggunaan metode check-in dengan menggunakan sidik jari diharapkan dapat mengurangi lama waktu menunggu di bandara, khususnya bagi traveler pebisnis yang tidak punya banyak waktu.

"Mimpi besar kami adalah, setiap saat Anda ditanya soal identitas saat bepergian dengan pesawat, Anda cukup menjelaskannya dengan menggunakan sidik jari saja," ujar manajer riset konsumen dan pengembangan maskapai Alaska Airlines yang bernama Jerry Tolzman, seperti diberitakan Daily Mail.

Selain kemudahan yang ditawarkan, metode tersebut juga tidak lepas dari kritikan. Sejumlah pakar keamanan berpendapat kalau sistem tersebut bisa saja bermasalah hingga disalahgunakan.

Salah satu profesor kriminologi Universitas Ottawa yang bernama Shoshana Magnet misalnya, mengatakan kalau penumpang yang sehari-harinya melakukan pekerjaan fisik memiliki sidik jari yang berubah-ubah dan sulit dibaca mesin pemindai, seperti diberitakan San Jose Mercury News.

Terlepas dari pro kontra yang ada, semoga metode tersebut dapat berjalan baik dan dapat diterapkan di sejumlah bandara besar di dunia. Check-in tidak perlu makan waktu lama.

(rdy/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads