Tentu, Menpar Arief Yahya bukan membandingkan dari segi keindahan atau keanekaragaman biota lautnya. Yang dimaksud adalah, pendapatan devisa Indonesia dari wisata bahari masih belum bisa menyaingi pendapatan devisa Malaysia dari wisata baharinya.
"Devisa pariwisata Indonesia dari wisata bahari hanya 10 persen. Sedangkan Malaysia, mereka bisa 40 persen," tuturnya pada acara Penandatanganan Nota Kesapahaman antara Kementerian Pariwisata dan PT Pelni (Persero) dalam rangka Kerjasama Pengembangan Pariwisata di dalam KM Kelud yang sedang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita punya 100 ribu km bentang garis pantai. Potensi wisata bahari kita jauh lebih bagus dari Malaysia tapi devisanya malah kalah," ujarnya.
Oleh sebab itu, kini Kemenpar menggandeng PT Pelni untuk mengembangkan wisata bahari Indonesia. Sebagai satu-satunya operator pelayaran di Nusantara, Pelni memiliki beberapa kapal yang bisa membawa wisatawan mengunjungi destinasi wisata bahari dan membuat paket wisatanya ke sana.
"Coba (Pelni-red), kerja sama dengan pengelola diving agar jadi lebih menarik. Wisatawan bisa tidur di kapal Pelni dan nanti bisa diving. Perfect!" saran Arief.
(aff/Aditya Fajar Indrawan)











































Komentar Terbanyak
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030
Malaysia Rajai Pariwisata ASEAN, Indonesia Kalah dari Vietnam