Hal tersebut diungkapkan oleh Sutrisno Iwantono, Ketua Bidang Hotel Non Bintang PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dalam acara forum diskusi 'Dolar Menguat, Bagaimana Pariwisata Kita?'. Bertempat di Restoran Mie HCM, Plaza Semanggi, Selasa (29/9/2015) Sutrisno memberikan penjelasannya.
"Belum ada yang PHK. Kalau dolar lewat Rp 15.000, yang kena banyak. Ekonomi pasti jelek. Kalau ekonomi jelek, di situlah hotel mulai kena," ujar Sutrisno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekonomi dalam negeri diperbaiki dulu. Untuk saat ini kita butuh cash flow, likuiditas, uang cash, kalau bisa diputar dalam negeri dulu. Itu dulu, kalau mau berpromosi keluar silakan, anggarannya ditambah 2 kali lipat juga boleh, tapi tahun depan," ungkap Sutrisno.
Sutrisno juga mengungkapkan meski dolar naik, tidak serta merta pariwisata juga ikut naik karena penurunan juga dialami oleh negara-negara lainnya. Inilah yang membuat pasar wisatawan domestik bisa menjadi solusi saat krisis dibandingkan dengan wisatawan dari luar negeri
"Meskipun dolar naik, tapi tingkat hunian hotel tidak mengalami kenaikan yang luar biasa. Itu karena negara lain juga mengalami masalah yang sama. Di tengah kondisi tidak menentu ini, pasar domestik yang perlu diperhatikan," ujar Sutrisno.
Meskipun begitu, Sutrisno tetap optimis keadaan akan membaik. Asalkan, pasar domestik diperhatikan dan promosi gencar dilakukan.
"Saya ingin menegaskan kembali, wisatawan domestik lah yang mesti kita garap. Kita tidak bisa berharap banyak dari global," tutupnya.
(krn/fay)












































Komentar Terbanyak
Tak Biasa, Pantai di Bantul Sepi Wisatawan Saat Libur Lebaran
Bali Kehilangan Sawah, 3 Ribu Hektare Raib dalam 8 Tahun
Turis Belanda Tewas Ditusuk di Bali, Apakah Pulau Dewata Masih Aman bagi Wisatawan?