Dolar Makin Tinggi, Sektor Perhotelan Belum Ada PHK

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dolar Makin Tinggi, Sektor Perhotelan Belum Ada PHK

Wahyu Setyo - detikTravel
Selasa, 29 Sep 2015 19:40 WIB
Dolar Makin Tinggi, Sektor Perhotelan Belum Ada PHK
Sapta Nirwandar dan narasumber forum diskusi (Wahyu/detikTravel)
Jakarta - Nilai tukar dolar yang tinggi membuat lesu dunia usaha. PHK terjadi di beberapa industri. Di Australia, ada hotel bangkrut karena nilai dolar meroket. Perhotelan di Indonesia diklaim kondisinya lebih baik.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sutrisno Iwantono, Ketua Bidang Hotel Non Bintang PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dalam acara forum diskusi 'Dolar Menguat, Bagaimana Pariwisata Kita?'. Bertempat di Restoran Mie HCM, Plaza Semanggi, Selasa (29/9/2015) Sutrisno memberikan penjelasannya.

"Belum ada yang PHK. Kalau dolar lewat Rp 15.000, yang kena banyak. Ekonomi pasti jelek. Kalau ekonomi jelek, di situlah hotel mulai kena," ujar Sutrisno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan campur tangan pemerintah. Bukan solusi yang muluk-muluk, pihak pengusaha hotel hanya ingin pemerintah melakukan spending dengan melakukan rapat-rapat maupun seminar di hotel. Hal tersebut akan sangat menolong.

"Ekonomi dalam negeri diperbaiki dulu. Untuk saat ini kita butuh cash flow, likuiditas, uang cash, kalau bisa diputar dalam negeri dulu. Itu dulu, kalau mau berpromosi keluar silakan, anggarannya ditambah 2 kali lipat juga boleh, tapi tahun depan," ungkap Sutrisno.

Sutrisno juga mengungkapkan meski dolar naik, tidak serta merta pariwisata juga ikut naik karena penurunan juga dialami oleh negara-negara lainnya. Inilah yang membuat pasar wisatawan domestik bisa menjadi solusi saat krisis dibandingkan dengan wisatawan dari luar negeri

"Meskipun dolar naik, tapi tingkat hunian hotel tidak mengalami kenaikan yang luar biasa. Itu karena negara lain juga mengalami masalah yang sama. Di tengah kondisi tidak menentu ini, pasar domestik yang perlu diperhatikan," ujar Sutrisno.

Meskipun begitu, Sutrisno tetap optimis keadaan akan membaik. Asalkan, pasar domestik diperhatikan dan promosi gencar dilakukan.

"Saya ingin menegaskan kembali, wisatawan domestik lah yang mesti kita garap. Kita tidak bisa berharap banyak dari global," tutupnya.

(krn/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads