Merupakan negara kepulauan, membuat pesawat dinilai sebagai transportasi utama di Indonesia. Apalagi banyak pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau dengan jalur darat atau laut.
"Soal akses, 75 persen turis datang lewat udara. 24 Persen lewat laut dan 1 persen lewat darat," ujar Menpar Arief Yahya dalam jumpa pers Buleleng Bali Dive Festival di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Utara, Kamis (15/10/2015).
Tapi sayang, hingga kini masih banyak destinasi di Indonesia yang belum memiliki bandara mumpuni sebagai tempat mendarat pesawat. Salah satu contohnya adalah kawasan Bali utara yang potensi wisatanya tidak kalah dibanding Bali selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief pun mengajak Pemkab Buleleng di Bali utara untuk segera mengirimkan surat dari gubernur kepada Kemenhub yang tembusannya ke BUMN dan Kemenpar. Hal ini bertujuan agar terjadi pemerataan kunjungan turis di wilayah Bali. Tidak ke Kuta atau Nusa Dua mulu.
Berpikir lebih jauh, sebenarnya masalah transportasi udara sudah jadi masalah klasik dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Lihatlah Maluku, NTT, Raja Ampat atau Papua, banyak destinasi di sana yang sebenarnya cantik tapi sulit tersentuh karena masalah aksesibilitas.
Penerbangan baik pesawat boeing atau pesawat perintis seharusnya lebih diperbanyak. Agar biaya yang dikeluarkan juga tidak mahal-mahal amat dan jangan sampai orang Indonesia sulit jalan-jalan di negerinya sendiri.
(rdy/rdy)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh