Guide di Rinjani Jangan Cuma Ceritakan Hal-hal Mistis

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Guide di Rinjani Jangan Cuma Ceritakan Hal-hal Mistis

Ahmad Masaul Khoiri - detikTravel
Jumat, 12 Agu 2016 17:10 WIB
Guide di Rinjani Jangan Cuma Ceritakan Hal-hal Mistis
( Ahmad Masaul Khoiri/detikTravel)
Mataram - Kawasan Geopark Rinjani di NTB akan memulai babak baru. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan mengembangkan Jalur Geowisata untuk meningkatkan daya tarik wisatawan. Pemandu yang berkualitas pun disiapkan.

"Inisiasi dan tahap perencanaan pengembangan Jalur Geowisata ini sudah dirintis pada tahun 2015. Selanjutnya kita tetapkan tema spesifik untuk setiap Jalur Geowisata," kata Kasie Produk Pariwisata Disbudpar NTB Siti Alfiah seusai rapat pengembangan wisata di kantornya Jalan Langko, Kota Mataram, Jumat (12/8/2016).

Hadir dalam rapat ini perwakilan dari Bappeda NTB, CSR BNI serta pojok kerja Geopark Rinjani. Menurut Alfiah, pengembangan Jalur Geowisata harus dibarengi kemampuan para guide dalam hal pengetahuan ilmiah mengenai obyek di dalam sebuah destinasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita masih terbatas pada guide yang kurang tahu keragaman budaya serta potensi hayati di Geopark Rinjani. Dia tidak bisa menjelaskan secara detail potensi yang ada di Rinjani," jelas dia.

Selain itu, pada Jalur Geowisata nantinya akan diperbanyak dengan pengembangan produk budaya. Sehingga para pelancong akan mendapat pembelajaran lebih tentang adat istiadat setempat selama perjalanannya.

"Memperbanyak produk-produk budaya. Tidak hanya menikmati alam selintas tetapi ada sisi edukasi bagi pelancong," ucap Alfiah.

Pada akhirnya pemangku kepentingan, kata Alfiah akan mengedukasi para guide agar mampu menaikkan level mereka agar lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga mampu memberi turis yang berwisata tidak hanya pengalaman tetapi di dalamnya terdapat ilmu dibawa pulang.

"Kita belum punya guide yang bisa mendampingi para peneliti. Jadi mereka nanti akan diedukasi untuk mempunyai pengetahuan dasar. Artinya tidak boleh ngawur mmeberi pengetahuan kepada turis atau peneliti," ucap dia.

"Seperti para penduduk Sembalun yang dulu porter lalu belajar Bahasa Inggris dan merangkap menjadi guide. Ini dikembangkan lagi agar mereka saat menjadi guide tidak hanya menceritakan tentang hal-hal mitos, cerita rakyat ataupun mistis," imbuh Alfiah.

(aff/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads