Menpar Jualan 10 Bali Baru di China

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menpar Jualan 10 Bali Baru di China

Faela Shafa - detikTravel
Senin, 29 Agu 2016 17:50 WIB
Menpar Jualan 10 Bali Baru di China
Foto: Thinkstock
Shanghai - Turis asal China jadi incaran Kementrian Pariwisata. Oleh karena itu, destinasi 10 Bali Baru pun diperkenalkan untuk menarik minat mereka liburan ke Indonesia.

Menpar Arief menyebut percepatan pengembangan destinasi 10 Bali Baru. Dia memaparkan potensi dari Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu dan Kota Tua Jakarta, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru Jawa Timur, Mandalika Lombok NTB, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara.

Di semua lokasi itu akan dibuat Badan Otorita yang tugas utamanya membangun KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Pariwisata. Kawasan yang dikelola untuk membangun amenitas, seperti hotel, resort, convention, theme parks, golf course, restoran, kafe, dan segala fasilitas yang dibutuhkan oleh wisatawan saat liburan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari 10 top destinasi itu, dibutuhkan investasi di kisaran USD 20 Miliar. Dari jumlah itu, pemerintah Indonesia akan menyiapkan 50%-nya dalam bentuk pembangunan infrastruktur dasar, seperti jalan, tol, bandara, pelabuhan, dan sebagainya. Sisanya, USD 10 Miliar mengajak sektor privat atau swasta untuk membangun amenitas," kata Menpar Arief Yahya dalam rilis yang diterima detikTravel, Senin (29/8/2016), dalam Business Forum yang digelar INACHAM – Indonesia Chamber of Commerce in China di Grand Hyatt, Shanghai.

Dari USD 10 itu, kata Arief, diharapkan bisa didapat dari investor Tiongkok yang saat ini memiliki kapital yang paling kuat untuk berinvestasi. Apa saja bentuk investasi yang dibutuhkan? Hotel, sampai tahun 2013 baru ada 57.724 kamar, diproyeksikan 120.000 di 2019. Restoran, existing 9.120 buah, tahun 2019 butuh 15.000. Marina atau tempat sandar yacht (perahu pesiar) baru ada 10 tempat, dibutuhkan 100 biji di tahun 2019.

"Masih banyak lagi, seperti KEK Pariwisata, diving operator, international recreation parks, dan lain-lain yang membutuhkan investasi," katanya.

Apa keuntungan jika investasi di sektor Pariwisata yang ditawarkan? Banyak insentif dan fiscal yang didapat. Ada keringanan pajak, import duty, pajak PPn dan PPnBM. Sehingga pengusaha bisa mengimpor barang-barang untuk melengkapi building atau projeknya dengan lebih ekonomis, untuk mendorong agar industrinya segera berjalan di Special Economic Zones (SEZ) itu.

Kemenpar sendiri sudah melakukan deregulasi terhadap banyak hal. Pertama, pemberlakuan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) yang saat ini sudah 169 negara bebas masuk ke Indonesia. Kedua, implementasi CAIT –Clearance Approval for Indonesia Theritory, untuk yacht. Sehingga izin untuk memasukkan perahu pesiar yang hendak berlayar ke perairan Indonesia tidak lagi butuh 3 minggu. Cukup 3 jam selesai, dan targetnya sama dengan Singapura maupun Hong Kong, 1 jam selesai.

Ketiga, pencabutan asas Cabotage, yang memberi keleluasaan kepada kapal pesiar untuk menaik-turunkan penumpang di 5 pelabuhan besar di Tanah Air. Sehingga orang bisa berlayar dan terbang.

Terbang dulu ke destinasi wisata, lalu dilanjutkan dengan berlayar. Berkeliling pulau-pulau indah di tanah air.

"Indonesia itu, memiliki wisata bahari yang sangat bagus. Tidak perlu diragukan lagi keindahan alamnya. Banyak orang yang tidak tahu, CNN International sudah merilis, snorkeling site terbaik di dunia ada di Raja Ampat. Runner up-nya adalah Labuan Bajo, NTT," ungkap Arief.

Vincensus Jemadu, Asdep Pengembangan Pemasaran Wilayah Asia Pasific Kemenpar, yang membawahi China mempresentasikan satu per satu 10 top destinasi itu. Banyak yang tertarik oleh presentasi tersebut.

"Prinsipnya, business lead, government support. Untuk public investment, membangun bacis infrastructure dan fasilitas pendukungnya. Private investment menggarap amenitasnya," ujar Vincen.

(shf/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads