Catat! Target Wisata Bahari Indonesia di 2019

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Catat! Target Wisata Bahari Indonesia di 2019

Afif Farhan - detikTravel
Rabu, 31 Agu 2016 10:15 WIB
Catat! Target Wisata Bahari Indonesia di 2019
Foto: Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam acara Anugerah Pesona Wisata Bahari Indonesia (Afif/detikTravel)
Jakarta - Bukan cuma target kunjungan 20 juta turis di 2019, Kementerian Pariwisata pun memiliki target khusus untuk wisata bahari. Targetnya pun tak sedikit.

"Target wisata bahari ada dari pengembangan destinasi sampai kunjungan turis dengan yacht (kapal layar)," kata Menteri Pariwisata Arif Yahya dalam acara Anugerah Pesona Wisata Bahari Indonesia di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (30/8/2016) malam.

Untuk target jumlah kunjungan turis di tahun 2019 yang khususnya datang untuk berwisata bahari, Kementerian Pariwisata menargetkan 4 juta kunjungan. Naik dari angka 1 juta kunjungan di tahun 2014 silam. Lalu devisanya juga naik, dari USD 1 M menjadi USD 4 M.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tahun 2014 juga, jumlah KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) bahari di wilayah pantai tercatat ada 8. Di tahun 2019, naik menjadi 19 KSPN bahari. Sedangkan zona titik selam di Indonesia yang menjadi unggulan, di tahun 2019 diproyeksikan terdapat 45 titik selam.

"Untuk yacht kita mau mengubah regulasi yang ada. Tidak mempersulit mereka datang ke Indonesia dan tidak ada pajak yang tinggi," ujar Arief.

Kunjungan yacht dari tahun ke tahun sebenarnya sudah cukup bagus. Tahun 2014 tercatat sebanyak 750 yacht masuk ke Indonesia dan naik ke angka 1.200 di 2015. Tahun 2019, target kunjungan yacht ke Indonesia sebanyak 6.000.

Begitu pula dengan kunjungan kapal pesiar. Tahun 2014 sebanyak 176 dan di 2015 sebanyak 361. Tak tanggung-tanggung, target kunjungan kapal pesiar di 2019 mendatang yakni 1.000!

"Kita harus me-manage dengan baik. Bahaya bagi bangsa ini kalau alamnya tidak dikelola dengan baik dan juga tidak memakai standar global," pungkas Arief. (aff/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads