Untuk menangani masalah-masalah khusus, Kemenpar memang punya Crisis Center sebagai unit reaksi cepat jika ada bencana atau masalah besar menimpa wiatawan. Sementara untuk, isu-isu strategis mengenai kebijakan pariwisata di era digital, Kemenpar punya pusat komando baru, yaitu War Room M-17 yang baru saja diresmikan.
Menpar pun ditanya apakah War Room ini bisa memantau kejadian yang viral di medsos, seperti kasus karang dirusak di Bali (https://travel.detik.com/read/2016/09/13/145000/3296906/1382/ini-reaksi-menpar-soal-karang-yang-dirusak-turis-di-bali). Menpar Arief Yahya menjawab, dia ingin isu-isu yang viral di dunia maya atapun bencana bisa dipantau juga lewat War Room.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief pun mencontohkan kerja nyata Crisis Center dalam menghadapi masalah, yaitu ketika teror bom pos polisi Thamrin. Kerja Crisis Center ini terhitung sangat cepat dan responsif terhadap masalah tersebut.
"Saya fully turun tangan sendiri, sampai tidak tidur semalaman. Kita sangat responsif saat itu," kata Arief.
Sementara itu, untuk kasus lain, meski skalanya belum sebesar bom Thamrin tetap dipantau juga oleh Kemenpar. "Yang diharapkan masyarakat kan respon yang cepat. Itu yang kita usahakan," tutup Arief. (aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh