Hal ini disampaikan Dirut Garuda Indonesia M Arif Wibowo kepada awak media di Sheraton Senggigi Beach Resort, Lombok, Jumat (27/7/2017) kemarin. Lombok sendiri menjadi lokasi dari Mandalika yang termasuk dalam 10 Destinasi Pariwisata Prioritas yang dicanangkan pemerintah.
"Mandalika ini kan masuk dari 10 top destination dari presiden. Kita ingin menambah kapasitas yang ada di Lombok," kata Arif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa titik yang akan kita sambungkan. Lombok itu harus connecting juga dengan Labuan Bajo, Ende, Maumere dan beberapa titik-titik wisata di wilayah NTB maupun NTT plus wilayah lainnya sampai ke Papua bahkan," jelas Arif.
Selain penerbangan domestik, rute international ke Lombok juga penting untuk. Karena saat ini kebanyakan turis mancanegara masuk ke Lombok dari Denpasar. Jika memungkinkan, penerbangan dari Australia rasanya cocok dibuka ke Lombok.
"Untuk saat ini gateway masih Denpasar. Kalau Denpasar, Jepang, Korea, China sudah masuk. Cuma ke depan saya kira yang paling deket Australia. Mereka bisa memiliki frequent travelers yang lebih banyak," jelasnya.
Selain itu, untuk tahun ini kemungkinan bisa menghadirkan pesawat charter dari China ke Lombok. Daerah seperti Manado dan Mandalika bisa menjadi destinasi atraktif buat turis China.
"China yang lebih gampang karena volumenya besar. Mungkin (tahun ini) charter, tapi nggak bisa untuk yang reguler untuk saat ini. Kita melihat perkembangan infrastruktur yang siap juga," ucapnya.
Garuda Indonesia belum lama ini memang baru membuka rute Chengdu-Denpasar. Nah, rute ini juga diharapkan bisa menambah kunjungan turis China ke Lombok yang dekat dengan Bali.
"Kita kan baru membuka Chengdu-Denpasar, ini kan membawa pasar yang besar juga sekaligus nanti akan mengenalkan wilayah ini kepada pasar China," kata Arif. (krn/wsw)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama