Yellow Brain yang Malang di Raja Ampat, Karang Cantik tapi Rawan Vandalisme

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Perusakan Karang di Raja Ampat

Yellow Brain yang Malang di Raja Ampat, Karang Cantik tapi Rawan Vandalisme

Bona - detikTravel
Jumat, 03 Feb 2017 13:10 WIB
Yellow Brain yang Malang di Raja Ampat, Karang Cantik tapi Rawan Vandalisme
Foto: Terumbu karang yang dicorat-coret dan disinyalir di Raja Ampat (Stay Raja Ampat/Facebook)
Jakarta - Baru-baru ini karang jenis massive di Raja Ampat digurat oleh orang yang tak bertanggung jawab. Ternyata jenis karang ini sama seperti yang digurat di Bali!

Jenis karang yang digurat di Raja Ampat adalah Yellow Brain Coral (Diploria labyrinthiformis). Yellow Brain Coral termasuk ke dalam jenis karang massive.

Guratan karang yang berada di Nusa Penida Bali beberapa waktu lalu juga termasuk ke dalam jenis massive dari famili Poritidae. Kenapa jenis karang ini yang selalu digurat ya?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena strukturnya seperti kubah atau batu dan menyediakan ruang yang biasanya cukup untuk aksi vandalisme itu," kata dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP, Dr Ir Diah Permata Msc, kepada detikTravel, Jumat (3/2/2017).

Dibandingkan dengan karang bercabang yang mudah patah, jenis massive memiliki struktur yang lebih keras. Hal ini dikarenakan struktur kerangkanya yang pejal atau massive. Di mata turis nakal yang tidak bertanggung jawab, karang ini ibarat papan tulis yang siap mereka gurat-gurat tanpa ampun.

"Dan umumnya yang dipilih Poritidae karena termasuk spesies yang memiliki koralit kecil dan jaringan lunak alias binatang karang atau polip karang," jelas Diah.

Jaringan lunak ini memiliki tebal yang hanya beberapa milimeter, sangat tipis. Hal inilah yang menyebabkan karang sangat mudah untuk digores.

Menurut Diah, masyarakat harus diedukasi kalau karang massive yang tampilannya seperti batu itu sesungguhnya adalah binatang. Ia berharap edukasi tentang karang diajarkan terus-menerus diberbagai kesempatan.

"Ini untuk mendidik masyarakat tentang terumbu karang dan binatang karang sebagai penyusun ekosistem," tutup Diah.

(bnl/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads