Diresmikannya Asean Economic Community pada tahun 2015 lalu menandai era keterbukaan antar negara ASEAN. Namun tidak hanya itu, sejumlah negara ASEAN bersama Indonesia pun tengah menuju satu destinasi bersama atau 'Single Destination'. Sejumlah tantangan yang ada pun dibahas dalam konferensi World Travel & Tourism Council yang digelar di Centara Grand and Bangkok Convention Centre, Kamis (26/4/2017).
Dalam diskusi bertema 'Freedom to travel - Can Asean lead the way', turut hadir Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Kobkarn Wattanavrangkul, Sekretaris Pariwisata Filipija, Wanda Corazon, Regional Director ICAO Asia dan Pacific Office, Arun Mishra dan Menpar Arief Yahya yang mewakili Indonesia. Acara pun terlebih dulu dibuka oleh kata sambutan dari Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai satu kawasan regional, Thailand yang memiliki pangsa besar dalam sektor pariwisata juga menyambut baik gagasan ASEAN sebagai 'Single Destination'. Adapun wacana dan tantangan untuk membuat Single Visa, badan keamanan dan komite untuk memudahkan perjalanan lintas negara ASEAN.
"Kami sedang menuju ke sana (Single Visa-red), semoga bisa tahun ini atau tahun depan, kita juga membahas soal keamanan dan kemudahan traveling antar negara ASEAN, ucap Kobkarn optimis.
Tentu ada regulasi yang harus dibahas oleh perwakilan negara ASEAN seputar implementasi Single Visa, Komite Keamanan dan cara untuk memudahkan perjalanan antar negara ASEAN. Dari sisi Menpar Arief Yahya, ia pun turut mendukung visi misi ASEAN sebagai Single Destination.
"Pariwisata itu tentang jarak dan kedekatan, sekitar 50 persen sektor pariwisata itu bergerak di ASEAN, kami pun meminta saling pengertian antar negara ASEAN," ujar Arief.
Dalam kesempatan tersebut, Arief juga sempat menyorot tentang kebijakan bebas visa Indonesia pada 169 negara serta pentingnya pengaturan regulasi di dalam negeri untuk menarik investor asing. Selain itu, Arief juga meminta agar negara ASEAN lain bersinergi dengan Indonesia dan begitu juga sebaliknya.
Arief pun memberi analogi lewat maskapai Singapore Airlines (SQ) dan Garuda Indonesia. Diucapkan oleh Arief, bahwa nantinya Singapura harus membolehkan Indonesia memakai maskapai SQ. Begitu juga Singapura yang diperbolehkan menggunakan maskapai Garuda.
"Sq Garuda itu taktik, kamu gak akan bisa develop transportasi seperti kita membangun SQ, SQ itu jaringannya seluruh dunia. Garuda kita baru terbang ke London dan Amsterdam. Bahasa jelasnya kenapa kita gak manfaatin SQ, Sq yang terbaik di dunia kita jadikan dia maskapai ASEAN," ujar Arief ketika ditemui usai konferensi.
Pada akhirnya, Indonesia bersama ASEAN tengah menuju Single Destination. Semoga saja semua regulasi dan implementasinya dapat terwujud secara nyata dalam waktu dekat. (rdy/wsw)











































Komentar Terbanyak
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan
Naik Tiga Tingkat! Indonesia Kini di Posisi ke-2 Destinasi Ramah Muslim
Bandara Husein Bandung Hidup Lagi, Cek Maskapai dan Rute Penerbangannya