Tepat hari ini Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. Namun di Hong Kong, hari ini juga menjadi momen libur bagi para pekerja termasuk untuk para pahlawan devisa dari Indonesia yang mayoritas bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Oleh sebab itu, tak sedikit dari mereka yang datang ke kawasan Victoria Park hingga Sugar Street di Hong Kong yang populer sebagai tempat kumpul para pahlawan devisa.
Ingin tahu lebih dalam, detikTravel pun sempat mewawancarai beberapa pahlawan penghasil devisa yang ditemui di kawasan tersebut, Senin siang (2/10/2017). Salah satunya adalah ibu Yuhana asal Bandung yang sudah bekerja sebagai PRT di Hong Kong sejak tahun 2010 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau jauh dari tanah kelahiran, Yuhana mengaku senang tinggal di Hong Kong. Setiap libur mau pun senggang, Yuhana juga kerap bertemu dengan para rekan seprofesi di sekitar Victoria Park pada hari libur. Hari ini misalnya, Yuhana juga sempat bertemu rekannya sesama PRT asal Kendal yang bernama Solihati. Kebetulan, Solihati baru 10 bulan kerja di Hong Kong setelah sebelumnya bekerja di Taiwan.
"Enak juga, bisa libur bareng teman. Saya sendiri dulu di Taiwan, sekarang di Hong Kong. Enakan di sini. Tapi kalau ngumpul hari kerja gak bisa, cuma kalau hari libur", ujar Solihati.
Selain Yuhana dan Solihati, ada juga PRT lain asal Grobogan di Jawa Tengah yang bernama Rosida. Beda dengan Yuhana dan Solihati yang tengah menikmati hari libur bersama sesama rekan PRT, Rosidah malah memanfaatkan hari libur dengan membuka pepustakaan sederhana sebagai sampingan. Uang dari kegiatan itu pun ia sumbangkan untuk pembangunan rumah yatim di daerah asalnya.
"Saya sudah hampir 12 tahun jadi PRT, buka perpustakaan sudah 6 tahun. Alhamdullilah, bisa bangun rumah yatim depan rumah untuk 120 anak," terang Rosidah mantap.
Kisah Yuhana, Solihati dan Rosidah pun hanya menjadi sebagian kecil gambaran dari para pahlawan devisa Indonesia di perantauan asing. Jauh dari tanah air, mereka berjuang untuk mencari penghidupan bagi diri sendiri hingga keluarga di tempat asal masing-masing. Walau beberapa dari mereka ada yang mengenakan batik hari ini dan tidak, tapi kerinduan dan bakti mereka pada tanah air tidak pernah pudar.
(rdy/aff)










































