Mantap! Perahu Pengangkut Rempah-rempah Indonesia Dipamerkan di Belgia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Mantap! Perahu Pengangkut Rempah-rempah Indonesia Dipamerkan di Belgia

Muhammad Nur Abdurrahman - detikTravel
Rabu, 11 Okt 2017 13:35 WIB
Miniatur Perahu Padewakang (M Nur Abdurrahman/detikTravel)
Bulukumba - Perahu Padewakang atau perahu layar yang pernah masyhur di abad 15 hingga abad 18. Kini, dirakit kembali dan akan dipamer dalam festival Europalia, di Brussel, Belgia, 10-24 Oktober 2017.

Moda transportasi ini digunakan masyarakat Bugis-Makassar mengangkut hasil rempah-rempah. Rute pelayarannya dari Maluku menuju Malaka, Johor (Malaysia), hingga Temasek (Singapura).

Ridwan Alimuddin, peneliti masyarakat maritim yang ikut sebagai pendamping dalam proyek pembuatan Perahu Padewakang, pada detikTravel, Senin (9/10), menuturkan perahu Padewakang ini dirakit kembali oleh ahli pembuat perahu Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan, berkat kerjasama pemerintah Belgia dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mewakili Indonesia sebagai negara tamu khusus festival seni budaya Europalia yang bertema maritim.

Menurut Ridwan, tim pembuat perahu yang dipimpin Haji Usman dan anggotanya, dengan supervisi ahli maritim asal Jerman Horst Liebner, membuat perahu ini dengan bahan kayu Bitti di Tana Beru, dengan ukuran panjang perahu 15 meter lebar 3 meter tanpa dilengkapi motor penggerak. Setelah perahunya jadi, dibongkar kembali dan semua bagiannya diberi nomor untuk dirakit kembali di Belgia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan layarnya ditenun kaum perempuan di Campalagian, Sulawesi Barat, dengan bahan Karoro, dari daun Gebang, sejenis tumbuhan palem, berukuran lebar 7 meter tinggi 5 meter. Adapun tiang layar terbuat dari Bambu Petung setinggi 7 meter. Layar perahu Padewakang ini memiliki ciri khas bangsa Austronesia (Madagaskar-Hawai/Taiwan-Selandia), seperti layar perahu dalam film Moana.

Bahan perahu dan layar dengan berat sekitar 3,8 ton tersebut kemudian dikirim menggunakan pesawat kargo ke Belgia, pada September lalu. Sedangkan para pembuatnya tiba di Belgia hari ini.

"Perahu Padewakang adalah cikal-bakal Perahu Pinisi yang mulai dikenal di abad ke-19, perahu Padewakang digunakan pedagang dari Sulawesi untuk menjual kain tenun, angkutan rempah-rempah dari Maluku ke Johor, Malaka dan Temasek saat musim angin muson barat. Perahu ini juga digunakan nelayan Makassar mencari Teripang hingga ke Australia dan gambar perahu ini diabadikan dalam relief Candi Borobudur," ujar penulis sejumlah buku maritim nusantara ini.

Perahu Padewakang ini, lanjut Ridwan, nantinya akan disimpan dan dipamerkan di Museum Liege, Belgia. Rencananya festival Europalia ini akan dihadiri dan dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla yang sedang melakukan lawatan dinas ke Eropa.

Sebelum perahu Padewakang, Ridwan juga pernah bersama 12 pelaut Mandar menampilkan 3 perahu Sandeq, perahu layar bercadik asal Tanah Mandar, Sulawesi Barat, untuk memeriahkan Festival Maritim Brest di Perancis, Juli 2012 silam.

Bedanya, 3 perahu ini dilayarkan dari Sulawesi Barat hingga ke Brest, Samudera Antlantik. Sebelumnya lagi, di tahun 1995, perahu Sandeq yang tercatat sebagai perahu layar tercepat di dunia ini juga dipamerkan di National Museum of Natural History di kota Paris, Perancis. (mna/msl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads