Moda transportasi ini digunakan masyarakat Bugis-Makassar mengangkut hasil rempah-rempah. Rute pelayarannya dari Maluku menuju Malaka, Johor (Malaysia), hingga Temasek (Singapura).
Ridwan Alimuddin, peneliti masyarakat maritim yang ikut sebagai pendamping dalam proyek pembuatan Perahu Padewakang, pada detikTravel, Senin (9/10), menuturkan perahu Padewakang ini dirakit kembali oleh ahli pembuat perahu Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan, berkat kerjasama pemerintah Belgia dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mewakili Indonesia sebagai negara tamu khusus festival seni budaya Europalia yang bertema maritim.
Menurut Ridwan, tim pembuat perahu yang dipimpin Haji Usman dan anggotanya, dengan supervisi ahli maritim asal Jerman Horst Liebner, membuat perahu ini dengan bahan kayu Bitti di Tana Beru, dengan ukuran panjang perahu 15 meter lebar 3 meter tanpa dilengkapi motor penggerak. Setelah perahunya jadi, dibongkar kembali dan semua bagiannya diberi nomor untuk dirakit kembali di Belgia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahan perahu dan layar dengan berat sekitar 3,8 ton tersebut kemudian dikirim menggunakan pesawat kargo ke Belgia, pada September lalu. Sedangkan para pembuatnya tiba di Belgia hari ini.
"Perahu Padewakang adalah cikal-bakal Perahu Pinisi yang mulai dikenal di abad ke-19, perahu Padewakang digunakan pedagang dari Sulawesi untuk menjual kain tenun, angkutan rempah-rempah dari Maluku ke Johor, Malaka dan Temasek saat musim angin muson barat. Perahu ini juga digunakan nelayan Makassar mencari Teripang hingga ke Australia dan gambar perahu ini diabadikan dalam relief Candi Borobudur," ujar penulis sejumlah buku maritim nusantara ini.
Perahu Padewakang ini, lanjut Ridwan, nantinya akan disimpan dan dipamerkan di Museum Liege, Belgia. Rencananya festival Europalia ini akan dihadiri dan dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla yang sedang melakukan lawatan dinas ke Eropa.
Sebelum perahu Padewakang, Ridwan juga pernah bersama 12 pelaut Mandar menampilkan 3 perahu Sandeq, perahu layar bercadik asal Tanah Mandar, Sulawesi Barat, untuk memeriahkan Festival Maritim Brest di Perancis, Juli 2012 silam.
Bedanya, 3 perahu ini dilayarkan dari Sulawesi Barat hingga ke Brest, Samudera Antlantik. Sebelumnya lagi, di tahun 1995, perahu Sandeq yang tercatat sebagai perahu layar tercepat di dunia ini juga dipamerkan di National Museum of Natural History di kota Paris, Perancis. (mna/msl)
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Bisa-bisanya Anggota DPR Usulkan Gerbong Rokok di Kereta